Jakarta, Aktual.co — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baghdad, Irak, sebetulnya perlu dijaga oleh prajurit TNI, bukan semata-mata mengandalkan perlindungan dari petugas keamanan setempat yang sangat minim. Baghdad, bersama dengan Kabul (Afganistan), Damascus (Suriah), Tripoli (Libya), dan Sana’a (Yaman), oleh Kementerian Luar Negeri RI memang dikategorikan sebagai daerah penugasan yang berbahaya. Demikian dinyatakan Dubes RI untuk Irak, Safzen Noerdin, kepada Redaktur Senior Aktual.co, Satrio Arismunandar. Satrio menjadi tamu di KBRI Baghdad, Selasa (24/2). Satrio sudah melakukan kunjungan jurnalistik ke berbagai wilayah di Irak sejak Kamis (19/2). Safzen menunjukkan praktik pengamanan yang lazim dilakukan kedutaan-kedutaan lain di Baghdad, misalnya, kedutaan Amerika Serikat. Jangankan di Baghdad yang pengamanannya sangat masif, Kedutaan Besar AS di Jakarta saja juga dijaga oleh anggota Marinir AS. Saat ini KBRI Baghdad dijaga oleh 8 polisi federal Irak yang bertugas secara bergiliran. Jadi KBRI Baghdad praktis dalam setiap saat hanya dijaga oleh dua polisi. Jika dari dua orang ini, yang satu sedang istirahat makan siang, dan yang satu lagi mengantuk atau kecapekan, praktis KBRI Baghdad adalah tanpa perlindungan. Ketika ditanya, kualifikasi anggota TNI seperti apa yang dibutuhkan KBRI Baghdad, Safzen menjawab tegas: “Saya butuh prajurit yang punya naluri tempur!” Safzen mengaku sudah bicara dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko tenteng kebutuhan ini, dan prinsipnya Panglima TNI tidak keberatan menyediakan prajurit. Namun hal itu masih harus dikaji di Kementerian Luar Negeri RI, karena pasti berimplikasi pada biaya dan aspek-aspek lain.
Artikel ini ditulis oleh:

















