Saudaraku, di balik fenomena keunggulan seseorang, suatu entitas kelompok dan bangsa terletak ketekunan membiasakan praktik-praktik unggul.

Dalam buku “The Habit of Excellence: Why British Army Leadership Works”, Letkol Langley Sharp, Kepala The Center for Army Leadership, mengungkap rahasia di balik reputasi hebat tentara Britania Raya.

Kata kuncinya adalah tradisi kepemimpinan yang hebat. Bahwa kepemimpinan adalah darah hidup tentara, daya manusia yang mendorong setiap bagian dari korp ketentaraan bekerja, mulai dari training, pengembangan, hingga medan tempur. Dan tradisi tentara Britania ini terbangun secara kumulatif dalam rentang waktu lebih dari 3 abad, mulai dari kekuatan kecil berjumlah 5000 personil menyusul gelombang Restorasi pada 1660.

Setiap org yang memasuki tentara dan menjadi pemimpin otomatis mengikuti suatu tradisi. Secara sadar atau tidak, mereka dipengaruhi oleh para pemimpin sekitar mereka, yang pada gilirannya dibentuk oleh para pemimpin sebelumnya, menciptakan jaringan kontinum yang menghubungkan para pemimpin di era drone dan big data dengan mereka yang beroperasi di era senapan flintlock.

Tradisi merupakan batu pijak bagi tentara, namun bukan jangkar yang tetap. Di sepanjang elemen kontinuitas, terdapat area yang terus mengalami perubahan. Setiap pemimpin baru memberi sentuhan baru sesuai dengan katakter dan perkembangan keadaan.

Sejarah kepemimpinan tentara Britania merefleksikan perkembangan proses profesionalisasi secara lambat, dari mindset tradisional yang memandang kepemimpinan sebagai suatu bakat bawaan yang melekat pada individu-individu dari latar sosial dan pendidikan istimewa, hingga keyakinan modern yang memandang kepemimpinan sebagai sesuatu yang bisa diajarkan, mengikuti prinsip-prinsip umum, dan menjadi urusan setiap orang dalam tentara.

Singkat kata, kepemimpinan sebagai kombinasi dari karakter, pengetahuan dan perbuatan yang menginspirasi orang lain untuk bertindak bisa diajarkan melalui pembiasaan. Kepemimpinan bukanlah suatu kekecualian heroik, tetapi praktik pembiasaan melakukan apa yang benar, sulit dan perlu setiap hari untuk membangun tim, menjaga orang-orang di dalamnya dan bekerja guna mencapai tujuan.

 

Belajar Merunduk, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)