Jakarta, Aktual.com – Ekonom Universitas Brawijaya (Unibraw), Candra Fajri Ananda mengatakan ada kegelisahan yang terjadi baik di masyarakat maupun pengusaha atas agresifitas pemungutan pajak yang dilakukan oleh pemerintah.

Pada masyarakat, ditengah daya beli yang lemah, kebijakan pemerintah yang memburu perpajakan secara ketat, termasuk wacana revisi UU PNBP, telah menjadi ‘teror’ tersendiri bagi masyarakat.

Sedangkan pada pengusaha, tindakan pemerintah ‘berburu di kebun binatang’ ditengah kelesuan pasar telah membuat pengusaha tidak nyaman. Akibatnya para pemilik modal lebih memilih meletakkan uangnya pada tabungan dibanding melakukan belanja investasi. Hal ini tentu juga berkontribusi pada perlambatan ekonomi.

“Sekarang ini para pemilik modal agak terganggu dengan perpajakan yang sangat agresif sekali. Harusnya pemerintah lebih lunak,” kata dia di Jakarta, ditulis Sabtu (25/11).

Disinyalir gencarnya pemerintah mengejar pajak karena untuk menutupi pembayaran bunga nutang. Mengacu pada perbandingan utang negara terhadap ekspor, telah melewati ambang batas.

“Utang kita dibanding PDB masih sekitar 27,6 persen, tapi kalau dibanding dengan ekspor posisinya 39 persen. Itu harusnya maksimum 20 persen, tapi kita sudah 39 persen. Artinya hasil ekspor kita belum bisa membiayai utang,” kata dia.

Karena dari sektor ekspor tidak mencukupi untuk pembiayaan utang, lanjut Candra, pemerintah terpaksa mengalihkan penerimaan perpajakan untuk mengamankan hal itu. Imbasnya pemerintah melakukan pengetatan atau menguber potensi pajak hingga baik masyarakat secara umum paupun pengusaha mengalami tekanan yang luarbiasa.

 

 
Pewarta : Dadangsah Dapunta

(Bawaan Situs)