Jakarta, Aktual.co — Dua keputusan awal Raja Salman dari Arab Saudi menjadi pertanda bahwa kebijakannya di masa depan mungkin berbeda dari mendiang raja Abdullah yang dianggap relatif liberal. Pekan lalu, Raja Salman memberi bonus senilai US$20 miliar untuk rakyat, dan memecat dua ulama yang dianggap relatif liberal dari jabatan mereka.

Langkah ini bisa dipandang sebagai dukungan pada kubu konservatis dan upaya membeli dukungan politik, dua hal yang bertentangan dengan langkah modernisasi yang sebelumnya digadang-gadang. Meski motif sebenarnya bisa lebih rumit, keputusan itu memberi pertanda bagaimana sikap Salman dalam menghadapi tantangan demografi yang mengancam legitimasi kekuasaan keluarga kerajaan di tengah kekacauan regional yang sekarang terjadi.

“Kelompok tradisionalis dan modernis semakin terpisah ketika Raja Abdullah berkuasa. Tetapi Salman memiliki hubungan baik dengan kedua kubu dan masing-masing berpandangan raja berpihak pada mereka,” kata Khalil al-Khalil, seorang akademisi dan penulis dari Universitas Imam Saud. “Saya memperkirakan kelompok koservatif akan mulai menguji batasan dan menunggu apakah mereka bisa melakukannya dibawah rejim baru,” kata seorang diplomat di wilayah Teluk.

Akan tetapi, tidak jelas jika Salman akan benar-benar memperlambat atau bahkan menarik kembali, reformasi liberal mendiang Raja Abdullah yang populer di kalangan muda Arab Saudi.

Kontrak sosial Arab Saudi yang tidak tertulis menyebutkan bahwa rakyat harus setia pada raja dengan imbalan layanan sosial, standar kehidupan yang nyaman dan pemerintah yang memerintah sesuai dengan aturan Islam. Dan sekarang kontrak sosial ini terancam. Pertumbuhan penduduk yang cepat berarti pengeluaran negara untuk rakyat harus dibatasi, sementara peningkatan akses ke dunia luar membuat kelompok liberal dan konservatif mulai menentang ide kekuasaan kerajaan. Bagi Salman ancaman ini lebih besar, karena para pejuang ISIS mengatakan aksi mereka akan mendorong pemberontakan di Arab Saudi untuk menyingkirkan keluarga kerajaan Al Saud.

Mendiang Raja Abdullah berupaya melestarikan kekuasaan keluarganya dengan berbagai reformasi yang bertujuan mencetak lapangan kerja di sektor swasta dan meliberalkan masyarakat secara bertahap dengan mengendorkan aturan-aturan ketat Islam.  Tetapi dia juga bersikap keras terhadap pembangkangan politik. Masih terlalu cepat untuk mengatakan visi Salman, tetapi serangkaian keputusan yang dikeluarkan minggu lalu bisa menjadi indikasi.

Keputusan itu antara lain pemecatan Menteri Kehakiman Mohammed al-Issa dan kepala Polisi Syariah Abdulatif Al al-Sheikh yang merupakan musuh utama kubu konservatif Arab Saudi. Keputusan Salman juga meliputi penggelontoran dana sebesar US$20 miliar untuk pembayaran bonus pada rakyat dan mengurangi berbagai komite kementerian menjadi dua, satu untuk mengatasi masalah keamanan dan satu lagi untuk masalah perekonomian.