Pekerja pelabuhan melakukan aktivitas bongkar muat menggunakan kereta api logistik di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (24/6). Pengoperasian kereta api logistik di pelabuhan tersebut merupakan strategi pemerintah dalam mengurangi angka 'Dwelling Time' dengan perkiraan proses angkut dan bongkar muat kontainer sebanyak 1 hari. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc/16.

Jakarta, Aktual.com – Biaya logistik terutama untuk angkutan laut ternyata masih mengalami biaya tinggi (high cost). Sehingga kondisi ini dikeluhkan oleh para pelaku jasa di logistik.

Bahkan yang sangat disayangkan lagi justru penyebab dari mahalnya biaya logistik ini karena ulah para BUMN yang kerap menerapkan pungutan-pungutan dengan alasan untuk menggenjot Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB).

“Pungutan dari BUMN ini sangat dikeluhkan oleh perusahaan logistik. Ini saya menganggpnya sebagai pungli (pungutan liar), tapi dilakukan secara struktural dan sistematis,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy IlhamĀ di Jakarta, Rabu (8/2).

BUMN yang menurut dia kerap melakukan pungli adalah perusahaan pelat merah yang mengelola bandara, pelabuhan, dan angkutan perkapalan. Sehingga yang ada, BUMN tersebut justru menciptakan biaya logistik selangit.

“BUMN lah yang menaikkan biaya tarif-tarif logistik ini mirip pungli saja, cuma resmi. Keuntungan besar di BUMN dipakai dari memalak pemakai jasa. Anda (BUMN) senang, kami susah. Ini sama saja enggak benar,” kecam dia.

Zaldy juga mengkritisi penyebab mahalnya biaya logistik ini juga dipengaruhi oleh tidak imbangnya arus kirim dan balik dari muatan kontainer itu. Kebanyakan ketika dikirim lalu baliknya dalam posisi kosong.

“Volumenya enggak imbang di Jawa dan luar Jawa. Masalah klasik kirim kontainer ke Sorong dan ke AS lebih murah ke AS. Kok bisa? Karena kalau ke Sorong, baliknya itu enggak ada,” keluh dia.

Selain itu, pihak pengusaha juga meminta kondisi infrastruktur diperbaiki dan skema subsidi tol laut harus diperjelas. Karena kondisi itu ternyata telah memicu mahalnya biaya logistik.

(Busthomi)

(Arbie Marwan)