Jakarta, Aktual.co — Jakarta, Aktual.co —  Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) mengkritisi penyelenggaraan haji 2014, mulai dari kurangnya  jumlah petugas, pemodokan, kesehatan, hingga transportasi. Kekurangan itu semua akibat keliru pikir dalam mengartikan pengurangan jumlah kuoata haji Indonesia.

Pengurangan jumlah petugas haji, dinilai KPHI, menyebabkan kualitas pelayanan haji pun otomatis menurun. “Saya kira pengurangan petugas itu kebijakan yang salah,” kata Slamet Effendy Yusuf, Ketua KPHI, di Makkah, pada Sabtu (18/10).

Kendati kuota haji saat ini dikurangi 20 persen, menurut Slamet, itu bukan berarti Kementerian Agama serta merta bisa mengurangi jumlah petugas hingga 20 persen pula. Sebagai contoh, akibat berkurangnya tenaga penanganan barang di Bandara, maka petugas pun kewalahan. Sehingga, jamaah kurang terlayani dengan baik.

Contoh lain, jumlah petugas transportasi yang juga kurang. Padahal mereka seharusnya terus bersiaga 24 jam.

Mengenai penginapan, KPHI menyoroti, sekitar 17.000 jamaah haji saat berada di Madinah, ditempatkan jauh dari Masjid Nabawi. Agar harga sewanya tidak mahal, Slamet mengingatkan, pemerintah harus mengkaji dengan benar pola penyewaan penginapan.

KPHI masih menemui ada pemadatan penginapan selama di Makkah, dalam arti jamaah yang ditempatkan agak berjejal. “Kami mengeceknya langsung,” katanya.

Khusus mengenai Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), KPHI mencatat kejadian di Madinah karena BPHI tidak beroperasi sejak awal jamaah datang karena masalah tasrih atau izin. “BPHI Madinah dibuka terlambat,” katanya.

Slamet Effendy menyesalkan izin BPHI yang tidak segera di urus dengan cepat padahal sudah habis. Petugas kesehatan di pos kesehatan, katanya, juga sempat kucing-kuncingan saat bertugas karena takut jika ada petugas Arab Saudi yang sedang mengawasi.

Namun khusus mengenai transportasi, Slamet Effendy cukup memberikan apresiasi karena kondisi bus cukup memuaskan, antara lain kondisi bus yang cukup bagus. “Saya juga naik bus shalawat (yang mengantar jamaah dari penginapan menuju Masjidl Haram),” katanya.

Mengenai penempatan jamaah gelombang kedua di Madinah, Slamet Effendy Yusuf melihat sudah cukup bagus penempatannya dan pembagian kuncinya sehingga.

Hal lain yang dinilai pula adalah waktu tunggu jamaah haji saat pemulangan ke Tanah Air. “Jamaah hanya perlu menunggu dua jam sebelum pesawat berangkat,” katanya. Hal ini membuat jamaah tidak terkatung-katung di Bandara.

Hotel transito yang digunakan jamaah haji gelombang kedua juga dinilai bagus dan layak. “Hotel ini belum digunakan, namun sudah kami cek,” katanya.

()

()