Jakarta, Aktual.Com – Bank Indonesia (BI) menyebut laju inflasi di tahun ini akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Lantaran banyak kebijakan yang terkait dengan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices) dinaikkan di tahun ini.
Selain kebijakan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang naik secara bertahap, juga kenaikan tarif Bahan Bakar Minyak (BBM) bakal lebih melonjakkan inflasi tahun ini.
“Dampak inflasi dari kenaikan BBM itu tinggi, dan menjadi perhatian BI. Karena kebijakan BBM bisa mengerek inflasi volatile food (kelompok harga pangan bergejolak),” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung di Kompleks Perkantoran BI Jakarta, Jumat (27/1).
Bahkan tak hanya itu, lanjut dia, kebijakan kenaikan BBM juga akan mempengaruhi kenaikan ongkos angkutan umum.
“Harga BBM bisa pengaruhi ongkos angkut dan lain-lain. BBM itu pengaruh besar, tapi yang penting tergantung gimana kita bisa kelola biaya angkut dan volatile food itu,” tutur Juda.
Selain itu, kata dia, BI juga minta kenaikan tarif BBM itu diharapkan di waktu yang tepat. Hal ini perlu dilakukan agar dampak terhadap inflasi tidak terlalu besar.
“Jadi kalau (timing) terbaik saat inflasi rendah dan saat panen. Intinya penyesuaian itu positif bagi fiskal dan kelanjutan kontingensi subsidi. Saya rasa positif,” ujarnya.
Juda juga menegaskan, terkait penyesuaian tarif dasar listrik kapasitas 900 VA hanya berdampak sedikit dan bersifat temporer.
“Mengenai TDL kami lihat dampaknya ke core inflasi sangat kecil. Srjauh ini TDL sangat terbatas, dampaknya temporer. Karena data yang masuk untuk inflasi Januari banyak yang pra bayar sedang yang pasca bayar nanti di Februari,” papar dia.
Pewarta : Busthomi
Artikel ini ditulis oleh:
Bawaan Situs

















