Washington DC, Aktual.com – Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menandatangani Joint Development Agreement (JDA) pengembangan ekosistem semikonduktor tahap pertama senilai USD 4,89 miliar dalam rangkaian kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Penandatanganan berlangsung di Washington DC, Rabu (18/2).

Airlangga menegaskan, kesepakatan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok teknologi global sekaligus mendorong transformasi industri bernilai tambah tinggi.

“Joint Development Agreement ini bukan sekadar investasi finansial. Ini bagian dari reposisi strategis Indonesia dalam arsitektur industri global. Kita ingin memastikan Indonesia menjadi bagian dari rantai nilai semikonduktor dunia,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Rabu (24/2/2026).

Kerja sama itu melibatkan proyek yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan digarap oleh PT Galang Bumi Industri (GBI) sebagai pelaku usaha Indonesia, bersama mitra Amerika Serikat, yaitu Essence Global Group LLC dan Tynergy Technology Corp.

Menurut Airlangga, pengembangan ekosistem semikonduktor merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperdalam struktur industri sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di rantai nilai global.

“Indonesia tidak lagi diposisikan hanya sebagai pasar teknologi, tetapi sebagai basis produksi dan pengembangan teknologi strategis,” jelasnya.

Pemerintah memperkirakan investasi tahap awal tersebut berpotensi menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja terampil. Pekerjaan akan berfokus pada bidang rekayasa, manufaktur wafer, teknologi material maju, serta sistem energi generasi baru.

Ruang lingkup kerja sama mencakup pembangunan infrastruktur manufaktur, pengembangan energi terbarukan dan industri hijau, program peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta riset dan pengembangan teknologi mutakhir.

Perusahaan mitra dari Amerika Serikat diketahui memiliki spesialisasi dalam proses plasmonik inovatif untuk produksi wafer ingot dan sel surya, termasuk integrasi teknologi amplifikasi energi canggih dan pengembangan sumber energi berkelanjutan generasi baru.

Pemerintah menilai kolaborasi ini dapat membuka akses Indonesia terhadap teknologi frontier sekaligus mempercepat penguatan ekosistem inovasi nasional. Kesepakatan tersebut juga disebut berpotensi mendorong investasi lanjutan hingga USD 26,7 miliar.

Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan setiap kemitraan internasional memberikan manfaat nyata berupa penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguasaan teknologi, serta percepatan transformasi ekonomi menuju industri berteknologi tinggi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi