Jakarta, aktual.com – Pemerintah Jepang mengumumkan telah menyita sebuah kapal nelayan asal China dan menangkap kaptennya setelah kapal tersebut memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang serta mencoba melarikan diri dari pemeriksaan. Insiden ini menambah ketegangan baru dalam hubungan kedua negara.
Badan Perikanan Jepang dalam pernyataan resminya menyebutkan, kapten kapal ditangkap sekitar pukul 12.23 siang pada Kamis (12/2). Penangkapan dilakukan setelah kapal terdeteksi memasuki ZEE Jepang di lepas pantai Prefektur Nagasaki dan berupaya menghindari interogasi dengan melarikan diri.
Menurut lembaga tersebut, ini merupakan penyitaan kapal nelayan China pertama oleh Jepang sejak 2022.
Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menyatakan bahwa detail insiden masih dalam proses penyelidikan.
“Guna mencegah dan menjerat kegiatan penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing, kami akan terus melakukan penegakan hukum dengan sikap yang tegas,” tegas Kihara dalam konferensi pers rutin.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi.
Hubungan Kian Memburuk
Penangkapan tersebut terjadi di tengah memburuknya hubungan Beijing dan Tokyo menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November lalu. Dalam sidang parlemen, Takaichi menyatakan bahwa invasi China ke Taiwan secara paksa dapat menjadi ancaman eksistensial bagi Jepang.
Pernyataan itu dipandang signifikan karena mengisyaratkan kemungkinan Jepang mengerahkan militernya jika terjadi aksi militer China terhadap Taiwan. Beijing pun menuntut agar Takaichi menarik komentarnya.
Sebagai respons, China memberlakukan kontrol ekspor serta mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.
Secara hukum internasional, ZEE merupakan wilayah laut hingga 200 mil laut dari garis pantai suatu negara yang memberikan hak eksklusif untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan sumber daya alam. Peta yang dirilis Badan Perikanan Jepang menunjukkan kapal China tersebut memang sempat berada di dalam ZEE, meskipun penangkapan kapten dilakukan setelah kapal keluar dari zona tersebut.
Insiden Langka
Penyitaan kapal dan penangkapan awak asing oleh Jepang tergolong jarang terjadi. Data Badan Perikanan mencatat, dalam lima tahun hingga 2025, hanya terdapat 30 pemeriksaan fisik terhadap kapal asing. Dari jumlah itu, hanya lima kapal yang disita, dan satu di antaranya kapal asal China pada 2022.
Takaichi sendiri menolak mencabut pernyataannya. Namun usai memenangkan pemilu dengan hasil telak, ia menyatakan Jepang akan terus berkomunikasi dengan China di “berbagai tingkatan” serta merespons situasi secara “tenang dan tepat demi kepentingan nasional Jepang.”
Media pemerintah China, termasuk Xinhua, merespons kemenangan Takaichi dengan memperingatkan dampak negatif terhadap keamanan regional. Xinhua menilai kebijakan Takaichi berpotensi melepaskan “tiga iblis”, yakni revisi konstitusi, peningkatan anggaran pertahanan, dan kepemilikan senjata ofensif.
Duta Besar China untuk Jepang, Wu Jianghao, menyebut hubungan bilateral kedua negara kini berada dalam situasi “paling parah dan sulit” sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1972.
Ketegangan serupa pernah memuncak pada 2010 ketika seorang kapten kapal China ditahan selama 17 hari setelah kapalnya bertabrakan dengan dua kapal Penjaga Pantai Jepang di dekat kepulauan sengketa di Laut China Timur. Wilayah tersebut dikenal sebagai Kepulauan Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.
Tahun lalu, kapal pemerintah China tercatat berada di sekitar wilayah tersebut selama 356 hari, meningkat dibandingkan 355 hari pada tahun sebelumnya, menandai intensitas patroli yang terus berlanjut di kawasan sengketa itu.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano














