Ilustrasi

Jakarta, aktual.com – Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibn Arabi ketika berguru kepada Syekh al-‘Uryabi pernah dalam kesempatan memiliki perbedaan pendapat yang membuat dirinya ditegur oleh Nabi Khidir As. Berikut kisahnya:

Suatu hari, sang guru menceritakan mimpinya bertemu dengan Rasulullah Saw yang ketika itu Rasulullah memberitakan seorang laki-laki yang diberi kabar gembira.

“Orang yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Saw sebagai kabar gembira itu adalah Fulan bin Fulan,” ucapnya kepada Ibn Arabi.

Ketika Ibn Arabi mendengar penjelasan dari sang Guru, ia tak lantas menerimanya. Penyebab ia tak menerima berita tersebut lantaran Ibn Arabi mengetahui seluk-beluk seseorang yang diberitahu oleh gurunya.

Keraguan ini dinyatakan oleh Ibn Arabi kepada gurunya. Lantas sang guru menarik ucapannya tersebut. Ibn Arabi mengira bahwa gurunya memiliki maksud dan tujuan lain.

Ibn Arabi merasa bahwa sang Guru memendam kekecewaan terhadap pendapatnya. Gurunya seperti menyayangkan sikap ketidak percayaan Ibn Arabi. Akan tetapi semua itu tidak pernah diucapkan oleh sang guru.

Setelah menyangkal pendapat sang Guru, Ibn Arabi pamit untuk kembali ke rumahnya. Di tengah-tengah perjalanan, Ibn Arabi dikejutkan oleh orang yang tidak dikenalnya. Bahkan orang tersebut mengenal diri Ibn Arabi.

Setelah mengucapkan salam, orang tersebut berkata, “Muhammad, benarkanlah apa yang menjadi perkataan Syekh Abu al-Abbas kepadamu terkait dengan seseorang yang dimaksudkannya,”

Ketika itu, orang tersebut menyebutkan nama yang dimaksudkan oleh Gurunya. Segera Ibn Arabi sadar, ia sedang bertemu dengan orang yang shaleh dan memiliki segudang teka teki yang menyelubunginya.

“Baiklah,” jawab Ibn Arabi kemudian.

Setelah berkata demikian, ia pun pamit. Di tengah perjalanan rasa ingin kembali kepada sang Guru sangat besar. Kemudian ia mengurungkan niatnya untuk pulang, dan ia datang kembali ke rumah sang Guru.

Namun baru saja ibn Arabi memasuki kediamannya, seketika itu Syekh al-‘Uryabi berkata, “Wahai Abu Abdillah, apakah aku harus membutuhkan Nabi Khidhir setiap kali aku menuturkan kepadamu suatu hal yang membuat hatimu merasa sulit untuk menerimanya?! Sehingga ia harus menegurmu dan mengatakan kepadamu agar membenarkan ucapan gurumu atas apa yang diberitakannya kepadamu?! Apakah kejadian seperti ini akan terus berulang dalam setiap kejadian yang mengganjal di hatimu untuk menerimanya?!”

“Maafkan aku,” kata Ibn Arabi

“Ya, sudah aku maafkan,” jawab sang Guru.

Ia merasa lega dengan diterimanya permintaan maaf tersebut. Akan tetapi ada suatu hal yang masih membuat dirinya bingung.

Walaupun dari penjelasan sang Guru ia jadi tahu siapa sosok yang bertemu dengannya di jalan. Akan tetapi untuk meyakinkannya ia bertanya lagi apakah benar sosok tersebut adalah Nabi Khidhir As.

“Benar, ia adalah Nabi Khidhir As,” ucap sang guru kepada Muridnya.

(Rizky Zulkarnain)