Beranda Khazanah Dunia Islam Ketum PP Muhammadiyah: Islam Memajukan dan Mencerahkan

Ketum PP Muhammadiyah: Islam Memajukan dan Mencerahkan

Presiden Joko Widodo (kanan), Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir (kedua kanan) dan Pengurus PP Muhammadiyah saat menerima kunjungan Presiden Joko Widodo di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat, Kamis (23/8/2018). Presiden Jokowi didampingi sejumlah Menteri Kabinet Kerja antara lain Mensesneg Pratikno dan Mendikbud Muhadjir Effendy. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menyerahkan hewan kurban berupa sapi kepada PP Muhammadiyah.  AKTUAL/Tino Oktaviano

Denpasar, aktual.com – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah dan Aisyiyah akan terus berkomitmen untuk memajukan (al-hadlarah) dan mencerahkan (al-tanwir) kehidupan semesta. Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam acara Orasi Kebangsaan Muhammadiyah & ‘Aisyiyah se-Bali di Denpasar, Bali pada Jumat (21/10) kemarin.

“Komitmen kita membangun kehidupan umat manusia yang satu sama lain memberi makna dan kemaslahatan untuk kehidupan semesta alam yang diciptakan Tuhan dengan penuh anugerah ini. Muhammadiyah dan Aisyiyah ingin hadir meneguhkan kehadiran Islam sebagai din al-hadlarah (memajukan) dan din al-tanwir (mencerahkan),” tutur Haedar.

Frasa memajukan berarti membuat segala hal yang positif dan baik berada di depan. Terdepan dalam memberikan pertolongan, pengentasan kemiskinan dan kebodohan. Sementara arti dari mencerahkan ialah mengubah kondisi yang serba gelap menjadi terang bercahaya. Dua frasa ini, ungkapnya, merupakan bahasa lain dari Islam sebagai rahmat semesta alam.

Menurut Haedar, rahmat adalah kebaikan yang serba utama dan kebaikan yang serba melintasi untuk semua. Alasan Muhammadiyah dan Aisyiyah berkomitmen penuh untuk memajukan dan mencerahkan tidak lain karena berangkat dari perintah agama Islam. Hal tersebut mengingat perintah pertama kepada Nabi Muhammad Saw bukan menegakkan sembahyang melainkan “Iqra dengan dan atasnama Tuhan”.

“Makna iqra di sini baik yang verbal maupun membaca, seluruh dimensi kerja akal pikiran, tentang diri kita dan alam semesta yang membacanya atas nama Tuhan bukan sembarang membaca. Harus ada nilai-nilai ilahiah sehingga tetap menjadi manusia yang rendah hati,” terang Haedar.

Selain itu, kerisalahan Nabi Muhammad Saw juga membawa pada aspek kemajuan dan pencerahan. Misi kerisalahan dan kenabian Muhammad telah mengeluarkan bangsa Arab “jahiliyah” dalam struktur kepercayaan penyembah berhala, menista martabat perempuan, berekonomi riba, merendahkan manusia menjadi budak, dan menyelesaikan sengketa dengan pertumpahan darah, menjadi bangsa yang maju lagi tercerahkan.

Lewat dakwahnya selama 23 tahun, Nabi Muhammad Saw sukses mengubah Bangsa Arab menjadi masyarakat Islam yang bertauhid, memuliakan manusia baik laki-laki maupun perempuan, berniaga secara halallan-thayyibah, menyelesaikan konflik dengan damai, serta membangun tatanan sosial-kebangsaan yang berkeadaban mulia.

“Ketika Islam datang di jazirah Arab, semuanya dicerahkan, menjadi agama monoteis Islam. Mengubah tradisi kekerasan, pertumpahan darah, dan politik oligarki menjadi tatanan sosial yang penuh dengan keadaban,” tutur dia.

(Megel Jekson)