Jakarta, Aktual.com-Saudaraku, Nabi Muhammad bersabda, “Iman itu telanjang, pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu.”

Iman tanpa ilmu laksana pohon tiada berbuah. “Karena ilmu,” kata Mu’adz bin Jabal, “menghidupkan hati dari kebutaan, cahaya mata dari kezaliman, dan kekuatan tubuh dari kelemahan.”

Ditambahkan oleh Fath al Maushuli, “Barangsiapa kehilangan ilmu, hatinya sakit dan biasanya mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian, ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada tara.”

Orang berilmu, kata Imam Ali, lebih utama daripada orang berpuasa, mengerjakan shalat malam, dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, terjadilah lubang dalam Islam yang tidak tertutupi hingga datang orang alim lain yang menggantikannya.

Ilmu menyangkut fakultas batin. Barangsiapa hendak menuntutnya, hendaklah ia membersihkan hati. Hati tak bersih mustahil disinari cahaya ilmu dan meraih ilmu bermanfaat.

Ibnu Mas’ud berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya periwayatan, melainkan cahaya yang terpancar dalam hati.” Untuk mengasah kepekaan hati, Imam Syafi’i menganjurkan untuk “memanjangkan” puasa. Karena kekenyangan dapat mengeraskan hati, memperbanyak tidur, dan mengurangi kecerdasan.

Ilmu akan tumbuh subur jika diamalkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Sufyan berkata, “Ilmu memanggil amal. Jika dijawab, ilmu akan mengikutinya. Jika tak dijawab, ilmu akan meninggalkannya.” Orang berilmu tanpa amal laksana pemanah tanpa tali busur.

Demi kemuliaan hidup, marilah kita buahi ketelanjangan keimanan kita dengan semangat mencari ilmu, yang berbuah amal saleh!

 

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

(Bawaan Situs)