Jakarta, Aktual.co —Malam ini, Aktual.co kembali membahas tentang kisah Islam yang bisa dibacakan orangtua kepada putra-putrinya bacaan menjelang tidur. Kali ini cerita tentang perjalanan seorang Sufi yang menjelaskan Tuhan kepada muridnya. Berikut kisahnya.
Awal dari sebuah perjalanan. Seseorang bertanya kepada Yusuf bin al-Husain, “Apakah yang harus aku lakukan agar aku bisa dekat dengan Tuhan?”, tanyanya.
“Ceritakan rahasiamu kepada-Nya, dan jangan sampai ada seorang pun di dunia ini yang mengetahui rahasianya. Melalui hal itu, sebuah tali keimanan akan tumbuh kepada Sang Ilahi.
Orang itu melanjutkan pertanyaannya, “Hanya itukah yang akan membantuku dekat dengan-Nya?”
“Dirikan hubungan yang teguh di awal perjalanan spiritualmu. Beribadahlah. Memiliki niat yang kuat juga penting. Dan, jika memungkinkan, nikmati kesunyian, itu akan lebih baik.” Jawab Al-Husain.
“Tetapi bagaimana aku mencapai tahap dimana aku bisa berkomunikasi dengan-Nya?” tanyanya kembali.
“Aku telah menjelaskan apa yang engkau butuhkan” kata Al-Husain. Tetapi Engkau ingin mencapai sebuah akhir sebelum Engkau memulainya, dan hal itu tidak mungkin.
Mencintai-Nya. Seorang pengembara tiba pada sebuah kampung dimana Abu Yazid al-Bisthami tinggal. Ia bertemu kepada Al-Bisthami kemudian bertanya kepadanya.
“Ajarkan aku cara yang paling cepat menuju Tuhan. ” Al-Bisthami menjawab: “Cintai Dia dengan seluruh kekuatanmu.”
“Itu sudah kulakukan”, seru pengembara tersebut. “Lalu kau perlu dicintai oleh orang lain.” Jawab Al-Bisthami.
“Tetapi mengapa?” tanyanya kembali.
“Karena Tuhan melihat hati setiap manusia. Ketika Ia mendatangimu, tentu saja Ia akan melihat cinta yang kau miliki kepadaNya dan Ia akan bahagia. Bagaimanapun, jika Ia juga menemukan namamu tertulis dengan penuh cinta dihati orang lain, Ia pasti akan jauh lebih memperhatikanmu.”
Menginginkan Jalan Pintas. “Mengapa engkau menghabiskan waktu kami dalam mencari Tuhan jika engkau begitu mengenal-Nya dengan baik?”, tanya para murid Hasan al-Bashri. “Engkau bisa langsung menjelaskan kepada kami seperti apa Dia.”
“Benar”, jawab Hasan Al-Bashri. Tetapi hal ini terjadi karena suatu hari ketika aku sedang berdiri di depan sebuah rawa-rawa, aku melihat ada seorang pria yang bersiap-siap untuk menyeberanginya. Aku berteriak, “Hati-hati disana, kau bisa terpeleset dibatunya dan Engkau akan basah kuyup!”
Pria itu menjawab, “Jika itu terjadi, hanya aku yang akan kotor. Jadi Hasan, jika kau terpeleset dan jatuh di jalanmu, seluruh muridmu akan ikut terpeleset dan jatuh bersamamu.”
“Pada saat itu aku mengerti bahwa Tuhan adalah suatu pencarian pribadi, setiap orang bertanggung jawab atas pencariannya. Seorang Master bisa berbagi pengalamannya, tetapi tidak pada hasilnya.”
Yusuf Bin al-Husain wafat tahun 304 H/916 M. Sementara itu, Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan al-Bisthami lahir di Bustham yang terletak di bagian Timur Laut Persia. Wafat sekitar tahun 261 H/874 M – 264 H/877 M.
Sedangkan, Hasan bin Abil Hasan Al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21 H/642 M. Ia adalah putra dari seorang budak yang ditangkap di Maisan, kemudian menjadi klien dari sekretaris Nabi Muhammad SAW, Zaid bin Tsabit.
Karena dibesarkan di Bashrah ia bisa bertemu dengan banyak sahabat Nabi. Hasan wafat di kota Bashrah pada tahun 110 H/728 M. Mereka semua adalah guru Sufi Agung yang memperkaya khazanah para pencari Tuhan.
Artikel ini ditulis oleh:

















