Nabi Nuh

Jakarta, aktual.com – Suatu ketika, Nabi Nuh As sedang melakukan dakwah berkeliling melihat-lihat umatnya. Nabi Nuh dan para pengikutnya merupakan Manusia yang diberi umur panjang oleh Allah Swt.

Ketika melewati sebuah rumah, Nabi Nuh as. melihat seorang wanita menangis, maka ia menghampiri dan bertanya “Mengapa kamu menangis?”.

Saya menangisi kematian anak saya padahal dia masih muda dan dalam keemasan masa mudanya,” jawab wanita tersebut.

Nabi Nuh as. bertanya padanya, “Berapa usia putra Anda?”.

“Hanya 300 tahun,” ucap sang wanita. 300 tahun merupakan umur yang sangat tua bagi Umat Nabi Muhammad Saw.

Nabi Nuh berkata padanya, dengan maksud untuk menghilangkan kesedihannya, “Apa yang akan kamu lakukan, Jika seandainya kamu hidup di masa umat yang usianya tidak melebihi enam puluh tahun?”.

Karena sang Wanita heran, ia bertanya balik, “Adakah seseorang yang hidup hanya selama enam puluh tahun?”.

“Ia, mereka ada,” ucap Nabi Nuh.

“Apakah ada orang yang bermaksiat (tidak menaati Tuhan) dalam waktu yang singkat itu?” Tanya sang Wanita.

Nabi Nuh as. menjawab, “Kebanyakan dari mereka bermaksiat,”

“Apakah mereka berbondong-bondong untuk mencintai dunia yang sesaat, yang hanya beberapa hari itu?” Ucap sang Wanita

Nabi Nuh as. Menjawab, “Iya, satu-satunya perhatian mereka adalah cinta dunia dan sedikit yang memikirkan akhirat,”

Sang Wanita pun masih heran karena ada Makhluk yang seperti itu, ia pun berkata lagi, “Apakah mereka berdebat/bertengkar di antara mereka sendiri tentang hal-hal yang sesederhana itu?”

Nabi Nuh as., “Sebaliknya, mereka justeru memperebutkan hal-hal yang paling tidak penting itu,”

“Apakah mereka akan membangun gubuk untuk mereka sedangkan hidup mereka hanya dalam waktu yang singkat?” Tanyanya lagi.

“Sebaliknya, mereka membangun istana untuk ratusan tahun, kemudian mereka mari dan meninggalkannya,” jawab Nabi Nuh as.

Mendengar hal itu, sang Wanita lantas berkata, “Oh, jika saya harus menggantikan umat itu, saya akan menghabiskan hidup saya di bawah naungan pohon dan membangun rumah saya di ambang kuburan, dan saya akan tinggal sepanjang hidup saya bersujud kepada Tuhan yang maha kuasa,”

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)