Jakarta, aktual.com – Terdapat seorang ulama Nahwu yang terkenal dengan sifat sabar, bagus akhlaknya, lapang dada dan bahkan jarang marah, ia bernama Syekh Al-Mubarak bin al-Mubarak adh-Dharir.

Karena Syekh adh-dharir ini terkenal memiliki sifat sabar dan lapang dada, datanglah seorang pemuda yang ingin menguji kesabaran yang dimiliki syekh adh-dharir ini.

Maka ketika seorang pemuda ini telah bertemu dengan Syekh adh-dharir, ia langsung menyampaikan sebuah pertanyaan berkaitan dengan ilmu Nahwu. Syekh adh-dharir menjawab pertanyaan anak muda tersebut dengan sangat lembut.

Mendengar jawaban Syekh, sang pemuda langsung menyanggahnya dan berkata, “Engkau salah,”

Syekh yang mendengar hal itu, kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih mudah lagi, agar dapat dicerna oleh sang pemuda.

Namun, sang pemuda justru mengatakan hal yang lebih menyakitkan lagi, “Engkau salah, semua orang menganggapmu memiliki kapasitas keilmuan yang tinggi terkait dengan ilmu nahwu, tetapi setelah aku beri pertanyaan engkau selalu jawab salah,”

Syekh adh-dharir yang mendengar hal tersebut lantas berkata, “Wahai anakku, mungkin engkau belum memahami jawabanku. Jika kamu mau, aku akan ulangi jawabanku dengan lebih mudah lagi,”

“Engkau telah melakukan dusta, aku paham apa yang engkau utarakan tapi karena kebodohannya engkau mengira aku tidak paham,” ucap sang pemuda.

Mendengar hal itu, Syekh tertawa seraya berkata, “Aku paham maksud dan tujuanmu, tapi engkau telah kalah karena aku sendiri tidak marah dengan apa yang kamu ucapkan tadi,”

“Demi Allah, Wahai anakku. Kamu tidak paham cara bertanya dan tidak paham jawaban juga, lantas bagaimana aku bisa memarahimu,” ucap sang syekh menutup pembicaraan.

Akhirnya sang pemuda tidak bisa membuat seorang syekh yang terkenal dengan sifat sabar dan lapang dada.

Dari kisah di atas, kita memahami bahwa memang seorang yang alim dengan kapasitas ilmu yang tinggi, untuk dapat berdakwah di tengah masyarakat harus memiliki sifat sabar dan lapang dada. Kadang kala banyak di antara masyarakat yang justru menghina, mencaci maki dan berusaha untuk menyerang kita. Akan tetapi, jika semua itu dibalas dengan amarah, maka semua dakwah yang kita berikan terasa sia-sia, karena sejatinya dakwah harus dilakukan dengan akhlak serta budi yang luhur.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)