Ilustrasi- Imam Ats-Tsauri

Jakarta, Aktual.com – Sufyan Ats-Tsauri bernama lengkap Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin Habib bin Rafi’ bin Abdillah, dan dipanggil pula dengan sebutan Abu Abdillah Ats-Tsauri. Dia lahir di Kufah pada tahun 96 H. atau yang bertepatan dengan tahun 716 M. dan wafat di Bashrah pada bulan Sya’ban tahun 161 H. bertepatan dengan tahun 778 M.

Pada saat kepemimpinan khalifah Abu Ja’far al-Manshur, Sufyan ats-Tsauri ingin diangkat menjadi seorang Qadhi (hakim agung) oleh Khalifah. Akan tetapi, karena Sufyan tidak ingin menjadi Qadhi dan dekat dengan pemerintahan, ia justru kabur. Berikut kisahnya:

Sufyan sempat melarikan diri dan berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain beberapa waktu dari umurnya.

Abu Ja’far tetap saja memaksakan kehendaknya. Akhirnya Sufyan dijebloskan dalam penjara dan dicambuk. Sehingga, dengan sangat terpaksa beliau menerima tugas untuk menjadi qadhi tersebut.

Tak lama kemudian, Sufyan melarikan diri dari jabatan sebagai qadhi. Ia terus menerus melarikan diri dan bersembunyi. Kitab-kitab yang ia miliki dikubur sementara. Namun demikian ia tetap memburu hadits dan mencari ilmu serta beribadah kepada Allah.

Khalifah Abu Ja’far begitu getol menggalakkan pencarian terhadap Sufyan. Abu Ahmad Az Zubairi berkata, “Aku berada di masjid Khaif bersama Sufyan. Ada seorang petugas menyampaikan sayembara, ‘Barang siapa yang bisa membawa Sufyan kepada khalifah, maka ia akan mendapat hadiah 10 ribu (dirham/dinar).’”

Diceritakan pula bahwa Sufyan pergi ke Yaman dalam rangka menghilangkan jejak sekaligus mencari ilmu dan hadits dari Ma’mar. Belum lama menginjakkan kedua kaki di Yaman, ia dituduh telah melakukan pencurian.

Akhirnya mereka seret Sufyan kepada Amir (Gubernur) Yaman saat itu yang bernama Ma’an bin Zaidah. Dia juga telah mendapat mandat dari khalifah untuk turut serta dalam memburu Sufyan.

Para pelapor itu berkata, “Wahai Amir, orang ini mencuri barang kami!”

“Kenapa engkau mencuri barang mereka?” tanya Amir.

“Aku tidak mencuri apa-apa!” kata Sufyan.

“Menyingkirlah kalian semua, biar aku leluasa menginterogasi!” ucap Amir.

Amir berbicara empat mata dengan Sufyan dan bertanya, “Siapa namamu?”

“Aku adalah Abdullah bin Abdurrahman (hamba Allah anak dari hamba ar Rahman).” Sufyan tidak ingin berdusta, namun tidak pula ingin berterus terang tentang jati dirinya, sebab ia sedang dalam pencarian.

“Aku bertanya kepadamu demi Allah, sebutkan garis nasabmu!” tanya Amir lagi

Sufyan tidak mungkin lagi menyembunyikan jati dirinya, sebab gubernur Yaman telah meminta dengan menyebut nama Allah.

“Aku adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq Ats Tsauri,” ungkap Sufyan.

“Kamu Ats Tsauri!? Bukankah kamu buron khalifah!?” tanya Amir dengan rasa kagetnya.

Beliau menjawab, “Benar!”

Kepala sang gubernur tertunduk sejenak memikirkan sesuatu, “Baiklah, jika engkau mau, tinggallah di sini, atau pergi dari sini. Seandainya engkau bersembunyi di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya. Aku akan jaga dirimu dan aku akan bela engkau,” Sungguh Ma’an bin Zaidah memiliki kebaikan yang banyak.

(Arie Saputra)