Jakarta, Aktual.co — Publik terus-menerus dicecoki oleh politisi atau anggota partai politik dengan metode penyelesaian konflik yang jauh diambang batas nalar sebagaimana pernah dipertontonkan dalam konflik PPP dan teranyar oleh Partai Golkar. Adu jotos, jual-beli pukulan, banting meja serta gelas, saling sabotase, dan lainnya seolah telah menjadi tabiat yang dilazimkan. Kisruh politik di institusi demokrasi Indonesia dinilai telah masuk pada tahap stadium ganas.
“Prilaku bar-bar yang dipertontonkan oleh politisi baik yang ada di partai politik atau di DPR harus segera dihentikan. Bila perlu diamputasi. Karena akan terus mengganggu tumbuh kembangnya bibit baru yang baru di institusi demokrasi kita,” kata peneliti senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata, di Jakarta, kemarin (26/11).
Menurutnya saat ini tingkat kepercayaan publik terhadap partai sangat mengkhawatirkan. Untuk itu, kata alumnus University Sains Malaysia (USM) itu, para elit partai politik harus dapat menahan diri ketika dihadapkan dalam tujuan politik mereka. 
Jika para anggota partai politik tidak merubah prilaku politik maka yang akan tercemar berikutnya adalah tingkat partisipasi publik dalam mengikuti hajatan politik seperti pemilihan umum. Publik akan merasa emoh berpartisipasi karena ulah para anggota partai politik itu sendiri.
Menurut Dian, publik tentu rindu dengan prilaku anggota partai politik yang santun dalam memperjuangkan sebuah gagasan, ide, ideologi, dan lainnya. Contoh idealnya ketika para founding father berdebat panjang dan panas di majelis Konstituante Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
“Karena itu, Partai Golkar, sebagai salah satu partai besar dalam peta politik Indonesia, harus dapat keluar dari kemelut yang melilitnya. Apalagi mereka memiliki segudang kader mumpuni,” pungkasnya.
Laporan: Adi Adrian

Artikel ini ditulis oleh: