Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Jakarta, Aktual.com- Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mendorong agar kegiatan pelatihan dan penyuluhan lebih rutin dilaksanakan ke masyarakat terkait sektor kelautan dan perikanan sebagai upaya menambah tingkat kesejahteraan warga di berbagai daerah.

“Penyuluhan dan pelatihan harus rutin diberikan kepada masyarakat, agar masyarakat punya keahlian untuk menambah penghasilan,” kata Menteri Trenggono dalam rilis di Jakarta, Rabu (2/3).

Trenggono menegaskan bahwa peningkatan produktivitas kegiatan sektor kelautan dan perikanan akan menambah pendapatan serta meningkatkan daya saing produk perikanan yang dihasilkan.

Plt Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP Kusdiantoro menyatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah produk perikanan yang bernilai ekonomis tinggi serta membentuk jiwa wirausaha guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan.

“Pelatihan ini hadir bukan sekedar untuk memanfaatkan SDA, tapi juga mengisi kebutuhan SDM yang unggul agar dapat mengelola sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. Sebagaimana disampaikan Presiden Joko Widodo, bahwa kebijakan ekonomi biru harus menjadi penopang pembangunan ekonomi Indonesia,” papar Kusdiantoro.

Ia mencontohkan, salah satu aktivitas yang baru dilakukan pihaknya antara lain adalah melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan (BPPP) Banyuwangi, dengan inisiasi Anggota Komisi IV DPR RI, Edward Tannur, menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Diversifikasi Olahan Ikan secara blended training bagi Masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 1-2 Maret 2022.

Kusdiantoro mengemukakan, dengan potensi sumber daya alam kelautan dan perikanan yang luar biasa, pihaknya meyakini NTT, khususnya Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang, mampu mengembangkan diversifikasi produk perikanan menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Ikan yang didapat jangan hanya untuk digoreng, dibakar, tapi harus diolah dengan beragam sajian, bentuk, dan rasa. Sehingga tidak hanya disukai oleh semua kalangan, produk olahan tersebut mampu memiliki nilai jual yang lebih tinggi, lebih tahan lama, dengan tetap mengandung gizi seimbang guna mengurangi angka stunting,” ucapnya.

Lebih lanjut disampaikan Kusdiantoro, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan alternatif mata pencaharian masyarakat setempat saat tidak bisa melaut serta menumbuhkan wirausaha baru serta dengan adanya diversifikasi produk perikanan dapat menjadi alternatif sajian tinggi gizi yang dapat dinikmati masyarakat.

Kemudian, masih menurut dia, manfaat lainnya dalam pelatihan tersebut diharapkan pula dapat meningkatkan nilai produk usaha sehingga pendapatan masyarakat meningkat serta membuat hasil perikanan menjadi olahan dengan daya simpan lebih lama.

Di akhir sambutannya, Kusdiantoro berpesan kepada seluruh penyuluh perikanan untuk dapat terus mendampingi kelompok binaannya dalam mengembangkan produk kelautan dan perikanan agar tercipta SDM yang kompeten, lihai dan berdaya saing.

Dalam laporannya, Kepala BPPP Banyuwangi, Achmad Subijakto, menuturkan bahwa 200 peserta yang mengikuti pelatihan ini akan mendapat materi pembuatan Chesse Ball Ikan, Wonton Ikan, Springroll Ikan dan Mini Crispy Ikan.

Sebelumnya, KKP juga telah menggelar Pelatihan Diversifikasi Olahan Hasil Perikanan, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, 25 Februari. Sebanyak 100 orang peserta yang didominasi oleh istri nelayan ini mengikuti pelatihan bersama instruktur bidang pengolahan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal, di bawah supervisi Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan.

Mewakili Plt. Kepala BRSDM, Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, dibutuhkan paradigma baru dalam mengelola usaha perikanan tangkap. Jika selama ini nelayan hanya bergantung pada hasil tangkapan yang dijual segar, ke depan akan didorong untuk menggeluti usaha pengolahan agar ketika musim paceklik masih mendapat pemasukan.

“Selain itu, adanya usaha pengolahan ini untuk meningkatkan nilai tambah ikan karena kerap kali harga ikan anjlok ketika musim panen,” katanya.

(Arie Saputra)