Jakarta, Aktual.co — Menanggapi keputusan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel terkait perubahan sistem distribusi beras, anggota Komisi VI DPR Nasril Bahar meminta pemerintah untuk tidak coba-coba mengganti sistem distribusi beras.
“Jangan sampai niat karena sistemnya yang tidak siap dan coba-coba justru menaikkan dan membuat langka beras,” ungkapnya kepada wartawan.
Yang perlu dilakukan Kementerian Perdagangan, lanjut Nasril, adalah bagaimana meningkatkan pengawasan penjualan harga beras. Lantaran yang menimbulkan banyaknya penyelewengan dalam penjualan beras itu adalah lemahnya pengawasan yang kemudian membuka peluang oknum pedagang untuk memainkan harga.
Nasril menegaskan, Kementerian Perdagangan harus menghapus mata rantai penyaluran beras. Pun harus dibuat kebijakan early warning di beberapa daerah remote supaya ketika ada tanda-tanda lonjakan harga bisa segera diantisipasi.
Sebagaimana diketahui, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel melakukan pengurangan pasokan stok beras Bulog ke Pasar Induk beras Cipinang, lantaran menurutnya banyak beras yang dijual dengan harga lebih mahal. Pemberlakuan perubahan penyaluran beras tersebut mulai dilakukan pada Senin (17/2).
Menurut Gobel, banyak konsumen yang protes lantaran harga beras hasil operasi pasar (OP) Bulog di Cipinang dijual di atas Rp 10.000 per liter. Banyaknya keluhan masyarakat ini, menurut Gobel, lantaran selama ini penyaluran beras Bulog dilakukan melalui dua pihak, yakni food station di Cipinang dan satuan tugas (satgas).
Gobel mengungkapkan, saat pihaknya melakukan sidak ke tempat penimbunan beras, ditemukan beras Bulog yang selama ini digunakan untuk operasi pasar diproses kembali dan diedarkan ke pasar lain dengan harga yang lebih mahal. “Saya masuk ke tempat penimbunan beras. Itu (beras Bulog) diproses lagi, malah masuk ke tempat lain. Sekarang kita ubah strateginya ke masyarakat langsung melalui satgas,” tandasnya.
Oleh karenanya, pemerintah akan lebih banyak menyalurkan beras melalui satgas. “Yang selama ini kita salurkan ke food station akan diubah jadi lebih banyak ke masyarakat,” ujarnya.
Dengan adanya perubahan sistem penyaluran tersebut diharapkan masyarakat bisa merasakan langsung harga beras yang sebenarnya.
Sebelumnya, Ketua Koperasi Pedagang Beras Pasar Induk Cipinang Zulkifli mengatakan, saat ini harga beras di pasar Cipinang sudah melonjak tinggi dari awal bulan Januari. “Saat ini harga beras paling jelek di pasar Cipinang capai Rp 10.000 per liter hingga Rp 12.000 ribu per liter. Jauh dari klaim pemerintah yang hanya Rp 8.300 per liter,” ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh:

















