Pelalawan, Aktual.com – Gerakan pemuda yang tergabung dalam Komunitas Seniman Bergerak (KSB) menuntut Pemerintah Kabupaten (PemKab) Pelalawan segera mengaktifkan Pasar Modern Sorek (PMS) secepatnya. Tuntutan di sampaikan melalui pemasangan spanduk di atas atap gedung PMS.

Salah satu spanduk bertuliskan “Bangunan Ini Hanya Bahan Diskusi, Sekedar Basa Basi Petinggi” yang merupakan sindiran kepada PemKab karena terlalu lama mendiamkan PMS. Juga spanduk itu ungkapan kekecewaan KSB terhadap pemerintah.

Taufik Akbar selaku Ketua KSB mengatakan setelah pemasangan spanduk, ia melihat rombongan ketua dan anggota DPRD Kabupaten Pelalawan melintas di jalan depan PMS. Genpari Pangkalan Kuras, GAS, dan KSB menghentikan rombongan anggota dewan tersebut. Dalam kesempatan itu Taufik menyampaikan beberapa kekecewaannya kepada anggota dewan Kabupaten Pelalawan.

“Saya sangat kecewa ketika penyampaian aspirasi kami selaku pemuda sorek sempat di sabotase oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mencopot spanduk yang telah kami pasang di waktu masyarakat sudah akan menikmati istirahatnya di malam hari,” ujar Taufik, Jumat (29/7).

Selanjutnya, Taufik menyampaikan bahwa pemerintah sangat lambat menyelesaikan urusan pasar modern sorek.

“Sebetulnya kami termasuk orang yang tidak mau tau tentang bagaimana berantakannya perkara administrasi pasar modern ini di tangan pemerintah dan dinas-dinas terkait, tetapi untuk itulah kami meminta dengan wajah menunduk dan dengan merendahkan diri, agar pemerintah berupaya lebih serius dan betul-betul berniat membuka pasar modern sorek,” ungkapnya

Sambung Taufik dalam diskusi dengan anggota dewan mengatakan sadar atau tidak, kecerdasan pemerintah dimata masyarakat teruji lewat kasus pasar modern ini. Bisa atau tidaknya pemerintah menyelesaikan kasus ini akan jadi tolak ukur nantinya. Berbagai asumsi yang timbul dikalangan bawah membicarakan pemerintah.

Bahkan kadang terasa pedas. Untuk itulah Taufik dan kawan-kawan memasang spanduk tersebut. Agar meredam gejolak yang ada, karena masyarakat merasa kekecewaan mereka terwakili lewat spanduk spanduk tersebut. Sayang sekali spanduk itu dilepas paksa oleh oknum tidak dikenal.

“Sangat sayangkan jutru karna aksi pencopotan spanduk tersebut malah mendatangkan dugaan buruk dari berbagai kalangan di tengah masyarakat, sehingga banyak orang menganggap pemerintah kita yang anti kritik,” ketus Taufik

Taufik menambahkan, “Jika seniman berbunyi, senyap sunyi menjadi birahi. Dan apabila seniman sudah bergejolak itu tanda negeri sedang dilanda ombak,”.

Abdul Kudus dan Zamzami selaku tokoh masyarakat juga menyampaikan hal senada, keresahan dari elemen terbawah (masyarakat) tentang pasar ini, makin hari makin memuncak. Dan tujuan anak-anak muda seni dan genpari memasang spanduk tersebut adalah berupa ungkapan, desakan, dan kejujuran atas apa yg dirasakan masyarakat sorek.

“Kami hanya mampu berharap, karna wewenang ada di tangan dinas terkait (pemerintah). Ini dijanjikan akan buka agustus 2021, tapi nyatanya sampai agustus 2022, masih belum terlaksana sebagaimana mestinya” ungkap H. Zamzami.

Ketua DPRD pun menyambut baik aspirasi berbagai kalangan ini. Beliau bersama kawan-kawan dewan berjanji akan mengupayakan semaksimal mungkin persoalan ini dengan step-step sesuai fungsi DPRD. ***

(Ikhwan Nur Rahman)