Beijing, aktual.com – Korea Utara (Korut) menggembar-gemborkan capaian ekonomi yang tidak dinyatakan secara gamblang pada tahun 2022 di tengah tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya termasuk pandemi COVID-19.

Capaian ini disampaikan pada sidang Majelis Rakyat Tertinggi baru-baru ini, yang tidak dihadiri Kim Jong Un, menurut keterangan Kantor berita Korea Utara, KCNA, Kamis (19/1).

Dalam laporan dari sidang dua hari Majelis Rakyat Tertinggi Rabu kemarin, Perdana Menteri Kim Tok Hun mengatakan warga Korea Utara “mencapai kesuksesan luar biasa dalam perjuangan untuk pembangunan ekonomi” dengan mengatasi “segala bentuk tantangan dan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya,” menurut KCNA.

Namun perdana menteri tidak merinci pencapaian ekonomi dan mengatakan Kabinet mengungkapkan “cukup banyak kekurangan” dalam perjuangan tahun lalu untuk menerapkan keputusan Partai Buruh Korea yang berkuasa. Kekurangan itu tidak dijelaskan.

Perekonomian nasional Korea Utara memasuki masa suram akibat tertekan oleh pandemi COVID-19, bencana alam dan sanksi ekonomi internasional yang sengaja dijatuhkan untuk menggagalkan ambisi nuklir dan misil balistik Pyongyang.

Sidang majelis mengesahkan pelaksanaan APBN 2022 dan pengeluaran untuk tahun ini, dengan 15,9 persen dari total pengeluaran tahun lalu digunakan untuk ” memperkuat pencegahan perang lebih lanjut,” kata KCNA.

Sementara persentase belanja pertahanan pada anggaran 2023 tetap sama, menurut laporan tersebut.

Total pengeluaran negara akan meningkat 1,7 persen pada 2023 dibandingkan tahun sebelumnya. Investasi pembangunan ekonomi akan tumbuh 1,2 persen tahun ini mencapai 45 persen dari total belanja, kata kantor berita itu, tanpa menyebutkan besaran anggaran.

Korut juga mengalokasikan pengeluaran pada langkah-langkah antivirus pada 2023 “sebesar anggaran tahun lalu dengan prioritas utama,”

Pada 2022, anggaran awal untuk mengatasi pandemi telah meningkat 33,3 persen dalam setahun, dan negara benar-benar membelanjakan 21,3 persen lebih banyak dari rencana awal untuk menangani wabah virus.

Sidang legislatif juga mengadopsi undang-undang perlindungan “budaya dialek Pyonyang” yang tampaknya untuk menghilangkan pengaruh gaya bahasa Korea Selatan.

Akhir tahun lalu, Kim Jong Un menyerukan “pertumbuhan eksponensial” dalam persenjataan nuklir negara itu, menyoroti kebutuhan untuk memproduksi senjata nuklir taktis secara massal, serta pengembangan sistem rudal balistik antarbenua baru.

Di tahun 2022, Korut meluncurkan misil, termasuk ICBMs, sebanyak 37 kali yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Kekhawatiran meningkat bahwa Pyongyang akan menjalankan uji coba nuklir ketujuh–yang pertama sejak September 2017–dalam waktu dekat.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)