Jakarta, Aktual.com — Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Jafar mendesak Bank Indonesia (BI) untuk lebih aktif mengarahkan perbankan nasional agar memprioritaskan pembiayaan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ekspor, menyusul tren penurunan kredit ke sektor tersebut.
Marwan menyoroti data kinerja perbankan periode 2025 hingga triwulan I 2026 yang menunjukkan penyaluran kredit UMKM dan koperasi turun dari Rp79 triliun menjadi Rp76 triliun.
“Sebagai otoritas makroprudensial, BI seharusnya mendorong bank, baik milik negara maupun swasta, agar tidak hanya fokus pada korporasi besar. Penurunan kredit UMKM ini harus dijelaskan secara transparan kepada publik,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip, Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, penguatan sektor riil merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, di samping peran BI dalam menjaga inflasi, nilai tukar, dan cadangan devisa. Ia juga menyoroti realisasi anggaran program pengembangan UMKM oleh BI yang dinilai belum optimal.
Selain itu, Marwan meminta penjelasan terkait proyeksi devisa 2026 yang dinilai moderat. Ia menilai pelaku usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan untuk menyusun strategi menghadapi kondisi global.
“BI harus lebih serius mendorong perbankan berpihak pada UMKM dan eksportir. Ini penting untuk memperkuat cadangan devisa dan daya tahan ekonomi nasional,” tegasnya politikus PKB ini.
Sementara itu, data Bank Indonesia menunjukkan kredit UMKM masih mengalami kontraksi. Berdasarkan Laporan Analisis Uang Beredar, penyaluran kredit UMKM turun 0,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.482,8 triliun pada Januari 2026, melanjutkan penurunan 0,3 persen yoy pada Desember 2025.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan perbankan masih selektif dalam menyalurkan kredit ke segmen UMKM karena tingginya risiko.
“Persyaratan pemberian kredit semakin longgar, kecuali pada segmen konsumsi dan UMKM karena risiko kredit yang masih tinggi,” ujarnya.
Secara rinci, kredit usaha mikro masih tumbuh tipis 0,1 persen yoy menjadi Rp663 triliun. Namun, kredit usaha kecil dan menengah mengalami kontraksi masing-masing 1 persen yoy menjadi Rp488,1 triliun dan 1,1 persen yoy menjadi Rp331,6 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit modal kerja UMKM tercatat turun 4,8 persen yoy menjadi Rp991,7 triliun. Sebaliknya, kredit investasi tumbuh 9,5 persen yoy menjadi Rp491,1 triliun.
Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2026 mencapai 9,96 persen yoy, didorong oleh kredit investasi yang tumbuh 22,38 persen yoy.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















