Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansah, menilai Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis penipuan digital (scam) yang serius. Penilaian tersebut disampaikan merespons data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat sekitar 1.000 pengaduan scam per hari masuk ke Indonesia Anti-Scam Center (IASC).

“Kalau boleh saya bilang sebagai anggota Komisi XI, sebenarnya kita sudah berada dalam sebuah krisis. Krisis scam ini tidak hanya menimpa masyarakat bawah, tetapi juga sampai ke level anggota legislatif, bahkan anggota kepolisian,” kata Charles dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Charles menilai besarnya jumlah korban dengan latar belakang yang beragam, ditambah rendahnya tingkat pemulihan dana, menimbulkan pertanyaan besar terhadap kesiapan sistem penanganan penipuan digital. OJK sebelumnya mencatat total kerugian akibat penipuan di sektor jasa keuangan mencapai Rp9,1 triliun, sementara dana yang berhasil dikembalikan kepada korban baru sekitar Rp161 miliar atau sekitar 5 persen.

“Pertanyaan saya, apakah OJK sudah mempunyai semacam prosedur tetap (protap) dalam menghadapi krisis seperti ini?” ujarnya.

Politikus Partai NasDem tersebut juga menyoroti jam operasional layanan pengaduan IASC yang disebut masih terbatas pada hari kerja. Menurutnya, kejahatan siber tidak mengenal waktu libur, sehingga layanan pengaduan semestinya beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu (24/7).

“Saya ingin mendengar laporannya, apakah layanan ini masih bekerja pada hari kerja saja atau sudah 24 jam? Harusnya ini berjalan 1×24 jam selama 7 hari dalam 365 hari. Itu bentuk komitmen penting OJK terhadap perlindungan konsumen,” tegasnya.

Selain itu, Charles meminta OJK menggencarkan sosialisasi nomor darurat atau hotline pengaduan scam, agar masyarakat mengetahui ke mana harus melapor ketika menjadi korban. Ia bahkan menyarankan OJK menggandeng influencer untuk mengedukasi publik mengenai langkah cepat atau “911-nya” penanganan penipuan digital.

“Masyarakat harus tahu nomor berapa yang menjadi 911-nya. Perlu juga menggandeng influencer untuk menyampaikan bahwa ketika tertipu, masyarakat harus segera melapor ke nomor tertentu,” pungkas Charles.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi