Beranda Internasional Kritik Demokrasi di Bawah Erdogan, Turki Sebut The Economist Jual Propaganda Murahan

Kritik Demokrasi di Bawah Erdogan, Turki Sebut The Economist Jual Propaganda Murahan

Kantor Majalah The Economist di London (Joanne Banks)

Ankara, aktual.com – Direktur Direktorat Komunikasi Turkiye, Fahrettin Altun mengutuk keras ‘propaganda murahan’ terhadap Turkiye yang dimuat oleh majalah The Economist di Inggris.

“Ini dia lagi! The Economist mendaur ulang penggambaran Turkiye yang secara intelektual malas, tumpul, dan sengaja mengabaikannya. Sepertinya mereka merasa berkewajiban untuk mengumumkan akhir dari demokrasi Turkiye melalui muntahan klise, informasi yang salah, dan propaganda terang-terangan,” ungkap Altun di akun Twitter-nya, Kamis (19/1) kemarin.

“Tajuk berita yang keterlaluan dan citra provokatif dapat membantu mereka menjual apa yang mereka sebut sebagai jurnal. Jadi kami mengucapkan selamat kepada mereka atas teknik pemasaran mereka yang cerdik. Tetapi kami harus mengingatkan para pembaca bahwa ini adalah jurnalisme sensasional yang didasarkan pada propaganda murahan dan disinformasi,” tegasnya.

Altun melontarkan pernyataan itu setelah The Economist menerbitkan sebuah tulisan yang meminta orang luar untuk memperhatikan pemilu Turki yang akan datang, dan mengklaim negara tersebut “di ambang bencana” di bawah Presiden Erdogan.

“Rakyat Turkiye telah menunjukkan komitmen mereka terhadap demokrasi, kesetaraan, dan kebebasan berkali-kali. Sistem politik kami telah mengalami banyak kesengsaraan, termasuk upaya kudeta yang berbahaya pada 2016 ketika rakyat kami menumpahkan darah mereka untuk menyelamatkan demokrasi kami,” ujarnya.

“Ketika Presiden Erdogan meminta warga kita untuk melawan para kudeta, tanggapan mereka adalah ‘pelajaran untuk zaman ini’. Jurnalis dan editor di The Economist jelas tidak pernah repot-repot memberikan bahan jurnalisme yang layak tentang perjuangan rakyat kita untuk demokrasi kita,” ungkap Altun.

Dilansir dari Anadolu Agency, dirinya juga menekankan semangat demokrasi Turkiye dan rasa memiliki sistem politik oleh rakyat, sangat kuat.

“Saya yakin The Economist tidak akan repot-repot melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Turkiye. Saya hanya ingin memperingatkan pembaca yang tidak menaruh curiga tentang keadaan menyedihkan mereka!” tuturnya.

(Megel Jekson)