Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi menilai bahwa dengan membangun kilang minyak sendiri tentu akan banyak memberikan keuntungan bagi Indonesia sendiri.
Terlebih, menyusul adanya niatan pemerintah untuk mewujudkan swasembada bahan bakar minyak (BBM) sebagai sebuah langkah strategis pemerintah menuju kedaulatan energi.
“Saya tidak sependapat dengan pernyataan pak Faisal Basri. Dengan alasan, kita butuh BBM itu untuk seterusnya bukan sifatnya insidentil, berapapun kapasitasnya pasti akan kita butuhkan produknya tidak mungkin nganggur,” kata Kurtubi, di Komplek Parlemen, Senayan, Jumat (22/5).
Alasan selanjutnya, sambung Kurtubi, pembangunan kilang di Indonesia akan membuka lapangan pekerjaan yang begitu besar untuk anak bangsa ini.  Setidaknya, ketika pabrik dibangun, ada sekitar 5000 karyawan yang akan bekerja, sehingga punya dampak ekonomi kepada rakyat.
“Setelah selesai kilang dibangun dan dioperasikan kilang sehari-hari itu menerima karyawan untuk masa hingga 30 tahun, itu keuntungan ekonomi,” papar dia.
Sementara itu, dari segi keamanan, BBM Indonesia akan bisa lebih terjamin suplai dalam negerinya ketimbang impor. “Karena impor butuh pengapalan, bila ditengah jalan ada perang kita repot. Ini tidak bisa dinilai uang soal keamanan itu.
Oleh karena itu, membangun kilang di dalam negeri jauh lebih menguntungkan, daripada Pertamina mengakuisisi kilang di tempat lain atau luar negeri.
“Itu manfaat untuk masyarakat kerja hanya dinikmati oleh negara lain (seperti Malaysia). Kalau kita bangun kilang kita pun akan memperkecil biaya distribusi BBM sampai ke konsumen,” tandas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Masalah ketahanan energi khususnya cadangan BBM di Indonesia jadi perhatian. PT Pertamina (Persero) saat ini berencana membangun kilang baru dan meningkatkan kapasitas kilang lama.
Faisal Basri, mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) mengatakan, daripada membangun kilang, lebih baik Indonesia mengimpor langsung, namun membangun storage atau tangki cadangan BBM yang banyak.
“Saya bilang, kalau bangun kilang sekarang berbahaya kalau pakai pendekatan Pertamina. Karena Pertamina bilang, akan bangun kilang stand alone (sendiri) yang marginnya kecil. Kilang itu harus terintegrasi dengan industri petrokimia. Ada olefin, ada aromatik, kemudian ada macam-macam turunannya yang menghasilkan produk petrokimia yang ke industri plastik sampai parasetamol. Jadi kalau stand alone, lupakan deh. Cuma buang-buang uang,” kata Faisal di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5) malam.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang