Semarang, Aktual.com – Sebanyak 1.100 hektare areal lahan pertanian di Kabupaten Pekalongan dan Brebes mengalami puso akibat dampak kekeringan berat.

Kepala Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jateng, Prasetyo Budhie Yuwono mengatakan kategori kekeringan berat di bawah 30 persen dari kebutuhan berada di areal tadah hujan.

“Yang kategori kekeringan berat ini mendekati 0,3 persen di bawah kebutuhan,” ujar Prasetyo kepada Aktual.com, jalan Madukoro Semarang, Jum’at (8/8).

Rata-rata daerah yang mengalami puso bukan di daerah lahan irigasi, tapi daerah lahan yang mengandalkan hujan.

Ia mengatakan sampai kini tidak ada lahan di daearah irigasi yang kekeringan. Seperti daerah beberapa yang diekpose media seperti Klaten, Temanggung, Magelang, Sukoharjo, Sragen maupun wilayah di bagian Selatan Jateng.

Tak hanya itu, dari inventarisir data yang dihimpun pihaknya mencatat, sekitar 12.500 ha lahan area terancam kekeringan. Artinya, di bawah 0,7 persen berada di 13 kabupaten/ kota se-Jawa Tengah. Yakni di Kudus, Demak, Kabupaten Semarang, Kendal, atau daerah Pantura.

Sementara, kategori kekeringan ringan mencapai 2700 ha terkena dampak kekeringan ringan dibawah 50 persen berada di 5 kabupaten dan kota.

Ditanya bagaimana upaya mengantisipasi lahan puso di daerah pertanian, pihaknya menerapkan beberapa upaya.

Pertama, sistem gilir air di daerah sungai yang berada di bawah kebutuhan, baik kategori kekeringan berat, kekeringan ringan, dan terancam kekeringan.

“Ini khusus di daerah sungai. Sedangkan daerah waduk dijamin pasti tercukupi. Nanti digilir sesuai kebijakan masing-masing wilayah. Semisal empat hari pertama digilir di daerah atas dulu yang digelontorkan air. Selanjutnya, empat kedua digilir berada di wilayah bawah,” ujar dia.

Langkah kedua, pihaknya membuat sumur lapang dengan kedalaman tertentu. Di beberapa tempat sudah dilakukan oleh petani dengan bantuan alat pompa air. “Jadi air nanti disedot dengan pompa air. Kami punya banyak pompa air di kantor UPT-UPT,” beber dia.

()

()