Jakarta, aktual.com – Harga minyak dunia menguat pada awal pekan ini, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menggelar latihan angkatan laut di dekat Selat Hormuz, jalur transit minyak paling vital di dunia, menjelang kelanjutan pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), diperdagangkan mendekati level US$64 per barel, sementara minyak mentah Brent ditutup di bawah US$69 per barel. Tidak terdapat penutupan perdagangan pada Senin karena libur nasional Hari Presiden di AS.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran tengah melakukan latihan militer di wilayah Selat Hormuz, jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya.
Latihan militer tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Volume perdagangan minyak relatif sepi pada awal pekan. Jumlah kontrak Brent yang diperdagangkan tercatat turun ke level terendah sepanjang tahun ini, dipengaruhi libur nasional di AS dan Kanada. Selain itu, sejumlah negara di Asia juga tengah merayakan Tahun Baru Imlek, yang turut menekan aktivitas perdagangan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah mengadakan pertemuan dengan kepala badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Media pemerintah Iran menyebutkan bahwa pembahasan mencakup proposal yang akan diajukan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff yang dijadwalkan berlangsung Selasa waktu setempat.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan optimismenya bahwa Washington dan Teheran dapat meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan membuka peluang tercapainya kesepakatan baru.
Selain isu Iran, pasar juga mencermati rencana negosiasi antara Rusia dan Ukraina yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Selasa dan Rabu. Meski demikian, prospek berakhirnya konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun tersebut dinilai masih terbatas, sehingga potensi kembalinya pasokan minyak Rusia ke pasar global belum dapat dipastikan.
Analis ANZ Group Holdings Ltd, Brian Martin dan Daniel Hynes, menyatakan pasar minyak saat ini masih sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global.
“Pasar tetap tidak stabil akibat ketidakpastian geopolitik. Jika ketegangan di Timur Tengah mereda atau kemajuan signifikan dicapai dalam konflik Ukraina, premi risiko dalam harga minyak dapat berkurang dengan cepat,” tulis mereka dalam catatan riset.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga WTI untuk pengiriman Maret naik 1,3 persen menjadi US$63,71 per barel pada pukul 07.15 waktu Singapura. Sementara itu, harga Brent untuk pengiriman April juga naik 1,3 persen menjadi US$68,65 per barel pada perdagangan Senin waktu AS.
Kenaikan harga minyak ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian hasil negosiasi internasional yang sedang berlangsung.
Artikel ini ditulis oleh:
Okta

















