Suasana Rusun Jatinegara Barat, Jakarta, Kamis (5/5). Realisasi pembangunan rusun oleh Kementerian PUPR baru mencapai lima persen atau 550 unit dari target pembangunan rusun sebanyak 11.000 unit pada tahun 2016. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww/16.

Jakarta, Aktual.com – Kholidah (33) terlihat tergesa-gesa saat ditemui Aktual.com di ruangannya di Blok F Rusanawa Rawa Bebek, Jakarta Timur. Ia hendak bepergian ke sanak saudaranya yang berada di Jakarta untuk silahturahmi di hari raya lebaran tahun ini.

Lebaran tahun ini tak seperti biasanya, ia biasanya mudik merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halamannya di wilayah Jawa Timur.

“Karena habis gusuran kemarin (11/4) saya jadi gak mudik,” ungkap dia pada Aktual.com di kediamannya, Rusanawa Rawa Bebek, Jakarta Timur, Kamis (7/7).

Kholidah merupakan salah satu korban penggusuran di Pasar Ikan, Jakarta Utara pada 11 April 2016 lalu. Ia memilih untuk tidak mudik lantaran belum beradaptasi dengan lingkungan barunya yang lebih banyak mengeluarkan isi kantongnya meskipun, belum dikenakan uang sewa gedung.

“Saya merasa berat untuk bayar listrik dan air,” keluh dia.

Ia juga mengakui, bahwa dalam perayaan lebaran tahun ini perasaannya berbaur antara menerima atau tidak menerima tinggal di rusun.

“Perasaan saya campur aduk, kalau dulu biasanya kan rumah sendiri tapi kalau sekarang saya nyewa, kecil lagi,” tutur dia.

Kesulitan lainnya, ialah bertambahnya ongkos transportasi suaminya yang bekerja di Jakarta Utara sebagai seorang guru. Sebetulnya, pihak Pemprov DKI telah menyediakan bus umum gratis untuk para penghuni rusun. Namun, lantaran tidak begitu membantu karena selalu terjebak macet suaminya memutuskan untuk menggunakan motor pribadi saja.

Ia juga menambahkan, bahwa lokasi rusunawa yang berada di Rawa Bebek sangat jauh ke tempat suaminya bekerja ataupun berbelanja ke pasar.

“Di sini nyaman gak nyaman. Ke depan, saya berharap biaya listrik bisa disubsidi sama Pemda,” harapnya.

(Agung Rizki)

Artikel ini ditulis oleh:

Arbie Marwan