Menyikapi sepak terjang Amerika Serikat di dunia saat ini, Pengamat Pertahanan, Andi Widjajanto melontarkan pertanyaan, “Apakah kebijakan AS saat ini masih bisa disebut kebijakan sebuah negara atau sejatinya kebijakan Trump?”

Mungkin saja, ujar Andi, pada 2029 semua kebijakan AS saat ini akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya kekuasaan Trump.

Andi berpendapat, kasus Venezuela ini merupakan anomali bagi AS. Sehingga, jelas dia, operasi militer sejenis tidak bisa diimplementasikan di negara lain dalam waktu dekat.

Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM, Ririn Tri Nurhayati, Ph.D berpendapat bahwa operasi militer AS di Venezuela cukup mengagetkan bagi dunia.

Menurut Ririn, dalam perspektif kedaulatan negara, operasi militer AS di Venezuela ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan negara yang dijamin Piagam PBB.

Dalam sistem hukum global yang anarkis seperti saat ini, tegas Ririn, great power akan memaksimalkan kekuatannya untuk mencegah munculnya kompetitor.

Ririn berpendapat, Indonesia harus konsisten membangun kerja sama bilateral dan multilateral di ranah global, serta memperkuat stabilitas di dalam negeri.

Peneliti Hubungan International CSIS, Andrew W. Mantong berpendapat bahwa, dari operasi militer AS di Venezuela, kita bisa melihat bahwa saat ini untuk menguasai sebuah negara tidak perlu menghancurkan batas sebuah negara.

Peristiwa tersebut, tegas Andrew, juga menunjukkan bahwa kondisi global saat ini semakin tidak pasti.

Menurut Andrew, kasus yang terjadi di Venezuela tidak berdiri sendiri, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik Venezuela yang pemerintahannya tidak mampu mengelola politik dan sumber daya yang dimiliki dengan baik.

Dengan kondisi itu, jelas Andrew, Venezuela mudah diintervensi oleh negara lain.

Wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat, operasi militer AS di Venezuela dinilai sebagian orang merupakan isu dilusional, sehingga tidak perlu dipikirkan secara mendalam.

Karena, menurut Saur, isu ini menyangkut seseorang yang memiliki keyakinan yang salah dengan kejiwaan yang tidak realistis.

“Robert Lipton benar, bahwa Donald Trump mengidap Solipsis yaitu orang yang hanya yakin dengan pendapatnya sendiri, ” jelasnya.

Apakah di dunia pskiatri, ujar Saur, bisa terjadi komplikasi seorang yang Solipsis dan Narsistik (orang yang suka membanggakan dirinya sendiri) yang hasilnya adalah operasi penyerbuan Venezuela.

Karena itu, menurut Saur, hanya ada dua alternatif untuk mengakhiri isu ini.

Yaitu, ujarnya, membawa Trump ke psikiater atau membawa Trump, setelah tidak berkuasa, ke Mahkamah Pidana Internasional.***

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano