Jakarta, Aktual.co — Ketua LPEM UI Kadek Dian Artha menilai, kenaikan outlook rating Indonesia oleh Standard & Poor’s dari stabil menjadi positif didorong oleh perbaikan manajemen fiskal yang signifikan.

Manajemen fiskal yang semula lebih menitikberatkan subsidi berubah menjadi lebih banyak ke infrastruktur ini diapresiasi oleh Standard & Poor’s.

“Saya melihat faktor manajemen fiskal lebih banyak berkontribusi terhadap perubahan outlook rating oleh S&P,” jelas Kadek Dian di Jakarta, Kamis (21/5).

Kadek mengatakan, beberapa terobosan yang dilakukan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro membuahkan hasil positif kenaikan outlook rating Indonesia tersebut.

“Saya lihat kinerja Menkeu Bambang Brodjonegoro patut diapresiasi. Cukup signifikan berkontribusi terhadap perbaikan rating ini,” kata dia.

Menurut Kadek, perubahan anggaran pemerintah dari semula lebih besar ke subsidi menjadi ke infrastruktur dinilai S&P positif bagi struktur pengeluaran pemerintah. Faktor lainnya adalah rendahnya rasio utang terhadap PDB.

Sejauh ini, S&P menjadi satu-satunya lembaga rating dunia yang belum menaikkan peringkat Indonesia ke investment grade (BBB). Lembaga tersebut masih mempertahankan rating Indonesia di posisi BB+, sementara Fitch Rating dan Moody’s telah menaikkannya sejak 2011.

S&P tercatat sempat menaikkan outlook peringkat Indonesia ke positif pada Februari 2006, namun kemudian pada Mei 2013 kembali diturunkan ke netral.

Penurunan disebabkan S&P menilai momentum reformasi semakin mengecil seiring makin membesarnya anggaran subsidi BBM.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka