Warga mengamankan perabot rumah tangga saat banjir menggenangi permukiman di Kampung Sewu, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Minggu (19/6). Sejumlah kawasan di Solo terendam banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo karena hujan lebat dari Sabtu (18/6) sore hingga Minggu (19/6) dini hari, sehingga ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc/16.

Bojonegoro, Aktual.com – Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro menyatakan banjir luapan Bengawan Solo mengancam daerah hilir di Jawa Timur, yang dipengaruhi hujan dalam beberapa hari terakhir.

Petugas Posko UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo Budi Hendro menyelaskan, banjir yang mengancam daerah hilir Jawa Timur, karena ada kenaikan air Bengawan Solo di Ndungus, Ngawi.

Di daerah setempat ketinggian air Bengawan Solo masuk siaga kuning dengan ketinggian 7,90 meter pukul 09.00 WIB. “Naiknya ketinggian air Ndungus dipengaruhi hujan di Ponorogo dan sekitarnya,” ujar dia, Rabu (18/1).

Namun, menurut dia, Bengawan Solo di Jurug Solo, Jawa Tengah, tidak terjadi banjir, termasuk ketinggian air di Waduk Gajahmungkur Wonogiri, Jawa Tengah, masih dibawah siaga banjir.

Sesuai data ketinggian air pada papan duga di Waduk Gajahmungkur Wonogiri, hari ini mencapai 131,68 meter, masih di bawah siaga.

Meski demikian, lanjut dia, hujan yang terjadi secara merata juga mengakibatkan sejumlah sungai di hilir, Jawa Timur mulai Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan, yang bermuara ke Bengawan Solo juga penuh.

Sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Karangploso, Malang, kata dia, curah hujan selama Januari di sebagian daerah Bojonegoro berkisar 151-200 mm dan sebagian lainnya 301-400 mm.

“Tapi curah hujan di Madiun dan Ponorogo dan sekitarnya lebih tinggi dibandingkan curah hujan di Bojonegoro.”

Sesuai data, ketinggian air pada papan duga di Bojonegoro merangkak naik menjadi 11,67 meter pukul 12.00 WIB. Begitu pula ketinggian air Bengawan Solo di hilirnya dalam waktu bersamaan juga naik, mulai Babat, Laren, Karanggeneng, dan Kuro, Lamongan, masing-masing 5,97 meter, 4,42 meter, 3,04 meter dan 1,15 meter.

“Meskipun air di hilir Jawa Timur naik, tetapi masih di bawah siaga banjir.”

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bojonegoro Andik Sudjarwo, menyatakan lebih mewaspadai banjir bandang yang disebabkan curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari ini.

“Melihat curah hujan tinggi yang terjadi beberapa hari daerah kami rawan terjadi banjir bandang.”

(Wisnu)