Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato budaya dalam Deklarasi Indonesia Melawan Kejahatan Seksual di Jakarta, Kamis (12/5). Deklarasi tersebut sebagai bentuk reaksi terkait kondisi darurat kekerasan seksual akhir-akhir ini, serta guna mendorong pemerintah segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai payung hukum dan perlindungan bagi korban. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/16.

Jakarta, Aktual.com-Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri mengingatkan kepada calon kepala daerah bahwa menjadi pemimpin itu tidak selalu mendapatkan kemudahan.

“Jadi pemimpin jangan dikira selalu enak. Jangan dikira jadi pemimpin di daerah akan bergelimang kemewahan,” kata Megawati Soekarnoputri pada pembukaan Sekolah Para Calon Kepala Daerah yang diselenggarakan PDI Perjuangan di Wisma Kinasih, Depok, Jawa Barat, Selasa (31/8).

Menurut Presiden Indonesia ke lima ini lingkaran kekuasaan selalui dipenuhi intrik yang membuat seorang pemimpin tertekan.

“Lingkaran kekuasaan selalu penuh dengan berbagai masalah,” katanya.

Megawati kemudian menceritakan pengalaman masa lalunya saat dirinya dibesarkan di lingkungan istana yang merupakan pusat kekuasaan.

Megawati juga menceritakan, ayahnya, yakni Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno mengalami berbagai dinamika dan intrik politik. Dirinya juga mengalami kendala-kendala di dunia politik.

Menurut Megawati yang sejak anak-anak sudah hidup di lingkungan politik, telah mengalami berbagai peristiwa politik.

“Banyak pemimpin yang terlena dengan kemewahan sehingga lupa dengan tujuannya untuk membela kepentingan rakyat,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Megawati mengingatkan para bakal calon kepala daerah dari PDI Perjuangan untuk aspiratif dan menyatu dengan rakyat.

Artikel ini ditulis oleh:

Antara