Umat muslim menunggu waktu berbuka puasa pada hari pertama Ramadhan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (1/3/2025). Masjid Istiqlal menyediakan 4.000 porsi makanan gratis untuk berbuka puasa yang diberikan kepada warga setiap hari selama bulan Ramadhan. Aktual/TINO OKTAVIANO

Oleh: Dona Romdhona, Pondok Pesantren Singa Buntu, Pedes, Karawang

Jakarta, aktual.com – Hayo ngaku, siapa di sini yang tiap tahun ngerayain Idul Fitri, puasa Syawal, dan masih nggak pernah kepikiran “sebenernya kenapa sih bulan ini namanya Syawal?”

Ternyata seru juga ceritanya!
Maknanya ada kaitannya sama unta, ekor, susu, sampe dosa-dosa yang diangkat.

Udah mulai penasaran kan?
Yuk kita bahas…

Pertama: Arti Dasarnya

Sebelum kita bahas kenapa bulan ini dinamain Syawal, kita harus tau dulu akar katanya. Ibn Faris, seorang ahli bahasa ternama, bilang gini di kitab Maqayis al-Lughah:

الشين والواو واللام أصلٌ واحد يدلُّ على الارتفاع

Artinya: “Huruf syin, waw, lam itu satu akar kata yang cuma punya satu makna: naik atau terangkat.”

Nah, dari akar kata ini, lahir berbagai kata yang semuanya ada hubungannya sama “naik”:

Syala al-mizan: timbangan naik (salah satu piringnya terangkat)
Asyaltu asy-syai’a: aku mengangkat sesuatu
Asy-Syawl: unta yang susunya naik
Asy-Syawwal: unta betina yang ngangkat ekornya

Gampang kan? Intinya mah semua tentang “naik”. Nah, bulan Syawal ini nama-nya diambil dari akar kata yang sama juga.

Kedua: Maknanya dari Unta yang Ngangkat Ekor?

Dulu, orang Arab namain bulan ini Syawal karena bertepatan dengan musim unta betina yang lagi pada ngangkat-ngangkat ekornya. Biasanya ini terjadi pas musim kawin atau pas unta lagi bunting.

Al-Jahiz, seorang ulama besar yang juga penulis Al-Bayan wa At-Tabyin, ngejelasin dengan gaya khasnya:

وإنما سمي شوّال شوّالا لأن النوق شالت بأذنابها فيه

“Dinamain Syawal itu karena para unta betina ngangkat ekornya di bulan ini.”

Terus beliau juga ngasih analogi menarik. Katanya, mungkin saja sekarang bulan Syawal jatuhnya nggak pas sama musim unta ngangkat ekor lagi. Dan yah… nama itu tetap melekat, kayak nama Ramadhan yang tetep dipake meskipun nggak selalu terjadi di musim panas. Namanya udah jadi “cap” atau tanda saja gitu.

Ash-Shahib ibn Abbad di kitab Al-Muhith fi al-Lughah juga bilang:

وسمي شوال -اسم شهر-لأنه وافق الوقت الذي تشول فيه الإبل

“Dinamain Syawal (nama bulan) karena bertepatan dengan waktu ketika unta betina ngangkat ekornya.”

Al-Jawaliqi di Syarh Adab al-Katib malah ngasih dua kemungkinan sekaligus:

وشوال سمي بذلك لأن الإبل كانت تقل ألبانها فيه يقال ناقة شائلةٌ بالهاء والجمع شول وقيل كانت تشول فيه الإبل أي تحمل فتشول بأذنابها

“Syawal dinamain gitu karena dua hal: ada yang bilang karena susu unta mulai berkurang di bulan ini (makanya unta disebut syā’ilah), ada juga yang bilang karena unta lagi hamil jadi ngangkat-ngangkat ekornya.”

Seru kan? Dua-duanya masih berkaitan sama “naik”. Bisa naiknya ekor atau soal susu yang berkurang (yang juga pakai istilah “naik” dalam arti hilang/menguap).

Ketiga: Ada Juga yang Bilang Susu Unta Berkurang

Nah, soal susu unta ini, ada penjelasan lebih lanjut. Beberapa ulama bilang bahwa di bulan Syawal, susu unta justru berkurang. Kok bisa? Karena kata syalat (شالت) yang artinya “naik” itu kadang dipakai buat sesuatu yang “naik” lalu hilang, kayak air yang menguap.

Ibn al-Jauzi di kitab At-Tabsyirah ngejelasin:

وسمي شوال لأَنَّ الأَلْبَانَ كَانَتْ تَشُولُ فِيهِ أَيْ تَذْهَبُ وتقل

“Dinamain Syawal karena pada bulan ini susu-susu unta ‘naik’, maksudnya hilang dan berkurang.”

Al-Jawaliqi juga nyebutin hal yang sama. Jadi, meskipun akar katanya “naik”, nanun ya gitu deh, dalam konteks susu unta di bulan Syawal, yang dimaksud adalah susunya berkurang.

Keempat: Maknanya Juga berkaitan dengan Mengangkat Dosa?

Di kitab Fadha’il Syahri Rajab karya Al-Khallal, disebutin dengan jelas:

سُمِّيَ شوال لأنه يشول الذنوب كما تشول الناقة ذنبها

“Dinamain Syawal karena ia mengangkat dosa-dosa, sebagaimana unta betina ngangkat ekornya.”

Penjelasan ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, salah satu sahabat yang paling pinter. Dalam kitab Tartib al-Amali al-Khamisiyyah, ada cerita panjang tentang seorang Yahudi yang nanya-nanya ke Ibnu Abbas soal nama-nama bulan. Pas nyampe ke Syawal, Ibnu Abbas jawab:

وَأَمَّا شَوَّالٌ فَإِنَّمَا سُمِّيَ شَوَّالًا، لِأَنَّهُ يَشُولُ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ عِنْدَ انْسِلَاخِ رَمَضَانَ

“Adapun Syawal, ia dinamain Syawal karena ia mengangkat dosa-dosa anak Adam saat berakhirnya bulan Ramadan.”

Nah, nyambung kan sama puasa Ramadan dan Idul Fitri? Kita puasa sebulan penuh buat bersihin diri, berjuang melawan hawa nafsu, terus pas masuk Syawal, dosa-dosa kita diangkat. Makanya Idul Fitri juga disebut sebagai hari kembali ke fitrah, kembali suci, bersih dari dosa, masih nyambung dengan makna ini juga ternyata.

Ini juga kenapa kita disunnahin puasa Syawal. Setelah dosa diangkat, kita kasih “tanda tangan” dengan ibadah lagi. Kayak habis mandi besar terus wudhu lagi biar tambah “bersih”, gitu mah kira-kira.

Kelima: Keutamaan Bulan Syawal yang Sering Dilupakan

Nah, setelah tau asal-usul nama, kita juga perlu tau nih keutamaan bulan Syawal. Jangan sampe cuma tau nama doang namun pahalanya nggak keambil!

1. Puasa 6 Hari Syawal

Ini yang paling terkenal. Rasulullah bersabda:

مَن صامَ رمضانَ، ثمَّ أتْبَعَهُ ستًّا مِن شوَّالٍ، كانَ كصيامِ الدَّهرِ

“Barang siapa puasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa setahun penuh.”

Modal puasa wajib sebulan plus puasa sunnah 6 hari, kita udah dapet pahala setahun penuh. Hitung-hitungannya begini: satu kebaikan dibalas 10 kali lipat. Puasa Ramadan 30 hari = 300 hari. Puasa Syawal 6 hari = 60 hari. Total 360 hari = setahun penuh. Mantap!

2. Ada yang Puasa Sebulan Penuh!

Ternyata ada juga riwayat yang nyebutin bahwa beberapa sahabat puasa sebulan penuh di bulan Syawal.

وخرج ابن ماجه بإسناد منقطع، أن أسامة بن زيد كان يصوم أشهر الحرم، فقال له رسول الله – ﷺ -: «صم شوالا»، فترك أشهر الحرم ثم لم يزل يصوم شوالا حتى مات

“Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang terputus, bahwa Usamah bin Zaid biasa berpuasa pada bulan-bulan haram. Maka Rasulullah bersabda kepadanya: ‘Berpuasalah di bulan Syawal.’ Maka beliau pun meninggalkan puasa bulan-bulan haram, dan terus berpuasa di bulan Syawal hingga wafatnya.”

Riwayat lain (dengan sanad bersambung):

وخرجه أبو يعلى الموصلي بإسناد متصل: عن أسامة؛ قال: كنت أصوم شهرا من السنة، فقال لي النبي – ﷺ -: «أين أنت من شوال؟». فكان أسامة رضي الله عنه إذا أفطر رمضان؛ أصبح الغد صائما من شوال حتى يأتى على آخره

“Dan Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan dengan sanad yang bersambung: dari Usamah, ia berkata: ‘Aku biasa berpuasa satu bulan dalam setahun. Maka Nabi SAW bersabda kepadaku: ‘Bagaimana dengan puasa Syawal?’ Maka Usamah radhiyallahu ‘anhu, jika telah selesai Ramadan, beliau berpuasa sejak pagi hari berikutnya di bulan Syawal hingga akhir bulan.”

Riwayat ini sanadnya muttashil (bersambung), lebih kuat dari riwayat pertama. Perlu dicatat juga ya, tanggal 1 Syawal tetep haram berpuasa.

3. Tanda Diterimanya Amalan Ramadan

Para ulama bilang, salah satu tanda diterimanya puasa Ramadan adalah seseorang diberi taufik untuk puasa sunnah setelahnya. Iya, kalau kita mampu puasa Syawal, itu bisa jadi pertanda kalau puasa Ramadan kita diterima Allah.

Ibn Rajab Al-Hanbali di kitab Latha’if al-Ma’arif ngejelasin:

إنما جعل الله تعالى صيام ستة أيام من شوال بمنزلة السنّة للصلاة

“Allah menjadikan puasa enam hari Syawal sebagai sunnah yang mengiringi puasa Ramadan, sebagaimana shalat sunnah mengiringi shalat wajib.”

Kayak kita shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib, itu tanda kalau shalat wajib kita diterima dan jadi penyempurna. Begitu juga puasa Syawal, jadi penyempurna dan penanda diterimanya puasa Ramadan.

4. Ada Perbedaan Pendapat Ulama

Perlu diketahui juga, nggak semua ulama sepakat soal puasa Syawal. Ibnu Rajab di kitab yang sama ngasih ringkasan perbedaan pendapat yang menarik:

Yang mensunnahkan:

Ibnu Abbas, Thawus, Asy-Syabi, Maimun bin Mihran
Ibnul Mubarak, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah

Yang memakruhkan:

Imam Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Malik

وكَرِهَها الثَّوْرِيُّ وأبو حَنِيفَةَ وأبو يوسُفَ، وعَلَّلَ أصحابُهُما ذلكَ بمشابهةِ أهلِ الكتاب؛ يعنون: في الزيادة في صيامهم المفروض عليهم ما ليس منه

“Dan memakruhkan puasa ini adalah Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf. Para pengikut mereka beralasan karena menyerupai ahli kitab. Maksudnya? Dalam hal menambah-nambah puasa yang difardhukan kepada mereka dengan puasa yang bukan bagian darinya.”

Namun, Imam Malik sendiri katanya puasa Syawal di rumah, cuma nggak menampakkannya di depan umum. Jadi bukan berarti nggak puasa, tapi lebih ke cara menyikapi biar nggak menimbulkan fitnah.

Ibnu Rajab menulis:

وكرهها أيضا مالك، وذكر في «الموطأ» أنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها، قال: ولم يبلغني ذلك عن أحد من السلف، وإن أهل العلم يكرهون ذلك ويخافون بدعته وأن يلحق برمضان ما ليس منه أهل الجهالة لو رأوا أحدا من أهل العلم يفعل ذلك

“Dan memakruhkan puasa ini juga Imam Malik. Beliau menyebutkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa beliau tidak melihat seorang pun dari ahli ilmu dan fiqih yang melakukannya. Beliau berkata: ‘Dan belum sampai kepadaku (riwayat) tentang hal itu dari seorang pun dari kalangan salaf. Sesungguhnya para ulama memakruhkan hal itu dan khawatir akan terjadinya bid’ah, serta dikhawatirkan orang-orang awam akan menambahkan sesuatu yang bukan bagian dari Ramadan jika mereka melihat ada ulama yang melakukannya.'”

Cara puasanya juga beda-beda:

Ada yang bilang harus 6 hari berturut-turut setelah Idul Fitri (Imam Syafi’i, Ibnul Mubarak)
Ada yang bilang boleh berturut atau terpisah, sama saja (Imam Ahmad, Waki’)
Ada yang bilang jangan langsung setelah Idul Fitri

Yang jelas, mayoritas ulama bilang puasa Syawal itu sunnah dan pahalanya luar biasa. Jadi jangan sampai kelewatan ya!

5. Syawal Juga Bulan Silaturahmi di Nusantara

Selain puasa, Syawal juga identik dengan silaturahmi. Habis Idul Fitri, kita pada saling mengunjungi, saling maaf-memaafkan. Ini juga bentuk ibadah yang luar biasa.

Nah, momen Syawal ini jadi waktu yang pas buat memperbaiki tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Apalagi setelah sebulan penuh kita latihan nahan diri di Ramadan, pas Syawal kita aplikasikan dengan memperbaiki hubungan sama sesama manusia.

Makna Filosofis: Syawal Itu Soal “Naik”

Kalau kita tarik benang merah dari semua penjelasan di atas, Syawal punya makna yang indah:

1. Dari sisi bahasa, Syawal berarti “naik” atau “terangkat”.
2. Dari sisi historis, ada unta yang ngangkat ekor, atau susu unta yang berkurang (tetap pakai istilah “naik” juga).
3. Dari sisi spiritual, Syawal adalah bulan di mana dosa-dosa “diangkat” setelah kita berjuang di Ramadan.
4. Dari sisi ibadah, kita diajak untuk “naik” lagi levelnya dengan puasa sunnah, biar pahala kita makin “naik” kayak setahun penuh.
5. Dari sisi sosial, kita “naik” level silaturahminya, memperbaiki hubungan yang sempat turun.

Jadi, Syawal itu bukan cuma bulan biasa ya. Ini bulan kemenangan, bulan pengangkatan dosa, bulan peningkatan pahala, dan bulan untuk memperkuat hubungan.

Penutup, Yuk Manfaatin Syawal!

Nah, setelah tau cerita panjang lebar tentang Syawal, jangan cuma jadi pengetahuan doang ya. Yuk kita manfaatkan:

– Kalau belum puasa Syawal, masih ada waktu. Nggak harus berturut-turut kok, yang penting 6 hari di bulan Syawal.
– Perbanyak silaturahmi. Lebaran memang cuma sehari, tapi momen silaturahmi bisa sepanjang Syawal.
– Jangan lupa, dosa-dosa udah diangkat. Namun ya GITU, tetep jaga diri, jangan sampai balik lagi ke kebiasaan buruk.
– Kalau ada yang belum sempat minta maaf, masih ada kesempatan. Syawal masih panjang!

Selamat menikmati bulan Syawal, semoga kita semua termasuk orang-orang yang dosanya diangkat, amalnya diterima, dan diberi kesempatan untuk bertemu Ramadan tahun depan. Aamiin!

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain