Mendikbud Muhadjir Effendy bersama Gubernur Sumatera Utara Teungku Erry Nuradi, Buya Syafii Maarif, Sekretaris Jenderal Kemdikbud Didik Suhardi, Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad, Walikota Medan, dan sejumlah tokoh agama di di Yayasan Perguruan Iskandar Muda, Meda

Jakarta, Aktual.com – Keragaman etnis masyarakat Sumatera Utara merupakan anugerah yang memperkaya mozaik Indonesia. Setiap masalah yang bersinggungan dengan isu-isu SARA selalu direspon cepat pemerintah daerah dengan dukungan pemuka agama dan tokoh masyarakat.

Masyarakat hidup berdampingan tanpa mempersalahkan perbedaan. Demikian disampaikan Gubernur Sumatera Utara Teungku Erry Nuradi saat menyambut kehadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Buya Syafii Maarif di Yayasan Perguruan Iskandar Muda, Medan.

Hadir juga Sekretaris Jenderal Kemdikbud Didik Suhardi, Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad, Walikota Medan, dan sejumlah tokoh agama.

Yayasan pendidikan penerima MAARIF Award 2014 ini mempunyai ciri khas menyemaikan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap kebinekaan dengan berpijak pada pendidikan inklusif.

Keragaman latar belakang siswanya sangat kental, sekolah ini mencerminkan miniatur Indonesia. Pihak sekolah memfasilitasi keragaman agama siswanya, bangunan ibadah masing-masing agama dibangun berdampingan di komplek sekolah.

Menurut Mendikbud Muhadjir, toleransi dan kerukunan merupakan dua hal tak terpisahkan dari budaya gotong royong. Ia pun bercerita di hadapan ratusan siswa yang memenuhi halaman sekolah.

“Ratusan tahun lalu saat batu Hajar Aswad di Ka’bah terseret hanyut oleh banjir besar, kepala suku sempat berselisih mengenai siapa yang paling berhak mengembalikan ke tempat asalnya. Akhirnya, mereka bermusyawarah dan bersepakat bahwa seorang pemuda bernama Muhammad yang akan ditunjuk. Namun Muhammad – yang kelak diangkat sebagai Nabi – meminta para perwakilan para suku untuk memegang ujung surbannya yang dipakai memindahkan Hajar Aswad tersebut. Kisah ini jelas pesannya, gotong royong tumbuh karena ada kerukunan dan toleransi”, ungkap Muhadjir.

“Jadi, saya mengapresiasi prakarsa Pak Softan Tan, merintis dan membesarkan lembaga pendidikan itu tidak mudah, apalagi sekolah yang dibangunnya atas dasar budaya gotong royong dan merangkul kemajemukan. Membangun sekolah dari dana patungan. Ini luar biasa, sangat pantas mendapat penghargaan seperti MAARIF Award”, ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Buya Syafii pun didaulat untuk meresmikan pura disaksikan Mendikbud Muhadjir Effendy. Pura yang baru dibuka itu diapit bangunan vihara dan mesjid yang berdampingan dengan gereja.

“Sekolah yang toleran itu tunas peradaban. Intoleransi simbol kebiadan. Toleransi inti keberadaban. Ini perlu ditegaskan disaat kita sekarang dirundung intoleransi dan kebencian, tidak hanya di Indonesia tapi juga fenomena global. Dunia pendidikan harus melek soal ancaman ini”, tutup Buya Syafii.

(Nebby)