Jakarta, Aktual.co — Dalam menjalani profesinya, sebagai seorang bidan. Banyak sekali bidan di Indonesia yang harus berjuang sedemikian kerasnya dalam upaya untuk memenuhi panggilan hati untuk tanggung jawab terhadap profesinya. Di sisi lain, mereka harus menjumpai sebuah daerah dengan sarana dan prasarana yang sangat minim, medan yang berbahaya, atau berada di tengah-tengah masyarakat yang masih menganggap profesi bidan dengan sebelah mata.
Parahnya lagi, mereka harus menghadapi itu semua tanpa campur tangan yang kuat dari pemerintah. Berikut adalah kisah dari  Bidan Eulis Rosmiati di kawasan pesisir Ujung Genteng Sukabumi Jawa Barat.
Bidan Eulis Rosmiati merupakan salah seorang bidan yang tidak hanya mengabdi dengan ketulusan. Dia senantiasa berinovasi dengan segala cara agar masyarakat di sekitarnya mampu memperbaiki kualitas hidupnya meningkatkan kesehatan.
Meskipun pernah mengalami perdebatan antara menerima penugasan di tempatnya bekerja atau menolaknya, tetapi waktu jugalah yang membuktikan besarnya bakti dari ibu bidan yang menginjakkan kaki di desa Unjung Genteng sejak tahun 1991 lalu. Desa Ujung Genteng tempat Bidan eulis Rosmiati ditugaskanm adalah sebuah desa terpencil yang terletak di daerah pesisir Selatan, Sukabumi Jawa Barat. Penduduknya sekitar 4000 jiwa dan mayoritas termasuk dalam kelompok ekonomi lemah.
Belum lagi, jarak Puskesmas terdekat ternyata cukup jauh, yakni mencapai 30 km. Menyadari hal ini, Bidan Rosmiati pun berjuang agar penduduk desa Ujung Genteng tetap mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Adapun salah satu usahanya adalah mengadakan arisan WC. Di daerah tersebut, masyarakatnya kurang menyadari pentingnya sanitasi yang baik.
Kini, setelah adanya arisan WC, hanya tinggal kurang dari 10% keluarga saja yang belum memiliki WC sendiri. Bidan Rosmiati juga menyelenggarakan berbagai program berbasis ekonomi kerakyatan, yang bertujuan untuk mengumpulkan cadangan kas di mana nantinya kas yang terkumpul akan digunakan untuk pembiayaan dalam proses persalinan. 
Dimana beberapa program tersebut antara lain adalah Program Lima Ribu Kasih (mengumpulkan uang lima ribu rupiah sebulan dari para buruh penambang pasir), Program Sagandu Seminggu (mengumpulkan sisa pengolahan gula aren, yang rata-rata dapat terkumpul 2 kg gula aren dalam sebulan) serta Program Seliber (seliter beras, yakni mengumpulkan dua sendok beras setiap harinya yang dalam sebulan ternyata dapat terkumpul seliter beras)
Tak hanya itu, Bidan Rosmiati juga rutin menyelenggarakan donor darah desa, agar ketersediaan darah bisa terjaga. Hal ini mengingat jarak puskesmas terdekat lumayan jauh. Dengan telaten Bidan Rosmiati memeriksa jenis darah setiap penduduk dan melakukan donor darah secara berkala. Sungguh bangga masyarakat Ujung Genteng, desa terpencil di pesisir selatan, dapat memiliki sosok bidan kreatif yang dengan tulus mengabdi kepada warga sekitarnya.

Artikel ini ditulis oleh: