Jakarta, Aktual.com – Empat perempuan sedang duduk bersila di gasebo depan sebuah rumah yang menjadi tempat berkumpul para pembatik di Jalan Terogong III, Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan.

Mereka menggayung malam, menggores cucuk—bagian ujung canting yang memiliki lubang saluran cairan malam—mengikuti alur sketsa yang melekat di atas kain mori.

Terogong tenar dengan julukan Kampung Batik Betawi berkat motif-motif ikonis yang diciptakan para pembatik, seperti ondel-ondel, abang-none, penari jaipong, bajaj, bemo, patung pancoran, monumen nasional, burung hong, tapak liman, bunga kembang sepatu, kembang kelapa, daun semanggi hingga buah mengkudu dan cermai.

Terhitung ada 40 motif batik yang terbagi dalam tiga jenis, yaitu flora, fauna dan ikon kontemporer yang terinspirasi dari landmark Jakarta. Puluhan motif itu tercipta melalui perenungan para pembatik tentang pelestarian khazanah Jakarta.

Motif buah mengkudu dan cermai menjadi signature batik betawi terogong dengan elemen warna-warna cerah, seperti merah, hijau, ungu maupun oranye, setidaknya ini yang membedakan dengan batik jawa yang cenderung memiliki warna gelap.

(Abdul Hamid)