Jakarta, Aktual.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menetapkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) sebagai bagian dari kebijakan countercyclical. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan pendapatan negara.
Dalam paparan APBN Kita Edisi Januari, Purbaya menyampaikan defisit APBN per Desember 2025 mencapai Rp695,1 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dari target awal, namun masih berada di bawah batas aman defisit sebesar 3 persen dari PDB.
“Defisitnya memang naik dari rencana awal, tetapi ini merupakan pilihan kebijakan untuk menjaga ekonomi tetap berekspansi,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Ia menegaskan pemerintah secara sadar tidak menekan belanja negara secara berlebihan demi menjaga defisit tetap rendah. Menurutnya, pengetatan belanja yang terlalu dalam justru berisiko menekan pertumbuhan ekonomi.
“Kalau belanja ditekan terlalu dalam, ekonomi justru bisa morat-marit dan kehilangan momentum,” katanya.
Struktur APBN 2025 menunjukkan pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu anggaran. Kondisi tersebut mencerminkan peran APBN sebagai instrumen stabilisasi untuk meredam dampak volatilitas ekonomi.
Sejalan dengan hal itu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan kondisi fiskal pada 2025 memang menuntut kebijakan yang lebih ekspansif. Ia menyebut penurunan harga komoditas global serta perubahan kebijakan penempatan dividen menjadi faktor yang menekan kinerja pendapatan negara.
“Dengan ruang fiskal yang terbatas, belanja tetap diarahkan untuk mendorong ekspansi ekonomi,” ujar Febrio.
Ia menambahkan, sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, serta pembangunan perumahan tetap dijaga keberlanjutannya melalui strategi belanja tersebut. Program-program ini dinilai penting untuk menopang daya beli masyarakat dan menjaga aktivitas ekonomi nasional.
Menurut Febrio, kebijakan fiskal yang ekspansif namun tetap terukur akan menjadi fondasi bagi pemulihan ekonomi ke depan. Ia optimistis peningkatan aktivitas ekonomi secara bertahap akan berkontribusi pada perbaikan pendapatan negara dan pengendalian defisit pada tahun-tahun berikutnya.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















