Kuala Lumpur, aktual.com – Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan memperkirakan perundingan Code of Conduct (COC) atau Kode Etik terkait Laut China Selatan dapat diselesaikan pada tahun ini. Optimisme itu disampaikan dalam sesi tanya jawab menteri dengan anggota Dewan Rakyat Malaysia di Kuala Lumpur, Kamis.
“Kami memperkirakan bahwa COC ini dapat diselesaikan pada tahun ini. Jika memungkinkan, kami berharap proses finalisasi tersebut dapat dipercepat, mengingat sebagian besar isu penting dalam perundingan COC ini telah dibahas dan disepakati,” ujar Hasan.
Ia menjelaskan, isu Laut China Selatan merupakan persoalan yang kompleks dan sensitif sehingga harus ditangani secara hati-hati, teliti, serta menyeluruh. Setiap langkah yang diambil pemerintah Malaysia, kata dia, selalu didasarkan pada pertimbangan komprehensif tanpa mengesampingkan aspek kedaulatan, hak kedaulatan, dan kepentingan nasional.
“Setiap tindakan yang diambil harus mempertimbangkan kepentingan nasional serta tidak mengorbankan kedaulatan dan hak kedaulatan negara,” tegasnya.
Hasan mengingatkan bahwa Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) atau Deklarasi Tata Laku Para Pihak Berkepentingan di Laut China Selatan telah ditandatangani pada 4 November 2002. Dokumen tersebut menjadi pedoman bagi negara-negara ASEAN dalam mengelola dinamika di kawasan Laut China Selatan.
“Sebagai kelanjutan dari DOC, negara-negara anggota ASEAN bersama China kini sedang merundingkan Code of Conduct in the South China Sea (COC) untuk memastikan perdamaian dan stabilitas kawasan,” jelasnya.
Menurut Hasan, salah satu pilar utama dalam DOC dan COC adalah prinsip tata laku para pihak di Laut China Selatan, termasuk penerapan confidence-building measures atau langkah-langkah membangun kepercayaan. Tujuannya adalah agar semua pihak, termasuk komunitas internasional, meyakini bahwa Laut China Selatan tetap menjadi kawasan yang aman, bebas, dan terbuka untuk pelayaran.
“DOC dan COC juga menekankan prinsip self-restraint, yaitu kewajiban menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat memicu ketegangan di kawasan,” katanya.
Ia menambahkan, Malaysia saat ini memegang peran strategis sebagai Negara Koordinator Hubungan Dialog ASEAN-China untuk periode Agustus 2024 hingga Juli 2027. Dalam kapasitas tersebut, Malaysia bertindak sebagai Ketua Bersama dengan China dalam membahas pelaksanaan DOC sekaligus memimpin perundingan draf COC.
“Malaysia sedang melaksanakan berbagai upaya dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk mempercepat proses perundingan guna memfinalisasi COC yang efektif dan substantif,” terangnya.
Meski demikian, Hasan menegaskan bahwa COC bukanlah instrumen untuk menyelesaikan sengketa atau tumpang tindih klaim wilayah. Menurutnya, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui mekanisme bilateral atau multilateral.
“COC merupakan suatu kerangka kerja yang menetapkan bahwa Laut China Selatan harus tetap menjadi laut yang bebas, terbuka bagi semua pihak, berfungsi sebagai jalur perdagangan, serta senantiasa aman untuk digunakan oleh semua pihak,” pungkas Hasan.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















