Istimewa

Bandung, Aktual.com – Ratusan suporter mengatasnamakan diri Gerakan Sepak Bola untuk Rakyat (GSR) menggelar Kopi Darat bertajuk “Revolusi PSSI demi keselamatan suporter dan kemajuan sepak bola Indonesia” dilaksanakan di GOR Koni Kota Bandung, Sabtu, (7/1/2023) tadi malam.

Acara yang diisi doa untuk 100 hari korban tragedi Kanjuruhan dan diskusi ini dihadiri oleh 7 perwakilan kelompok suporter di Indonesia, yakni Viking Bandung, The Jakmania Jakarta, Aremania Malang, Bonek Surabaya, Intergritas PSM Distrik Kampus, Pasoepati Persis Solo dan Sriwijaya Mania Palembang.

Selain itu, acara tersebut dihadiri Andreas Marbun dari Pandit Football dan Akmal Marhali dari eks Anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Kanjuruhan.

Koordinator Nasional GSR Ferri Bastian mengatakan, acara ini adalah bentuk solidaritas suporter Indonesia untuk korban tragedi Kanjuruhan. Menurutnya, Kanjuruhan jadi peristiwa berdarah yang paling bersejarah dalam sepak bola Indonesia.

“Itulah kenapa ratusan suporter dari berbagai wilayah hadir hari ini untuk merawat ingatan publik dan menolak lupa atas tragedi berdarah sepanjang sejarah sepak bola di Indonesia,” kata Ferri

Ferri mengajak para suporter di seluruh tanah air untuk kompak dan bersatu demi revolusi sepak bola Indonesia.

“Kami sepakat akan terus menjaga nalar publik dengan melakukan aksi mingguan di berbagai wilayah tanah air. Ini demi menuntut rasa keadilan, agar PSSI sadar dan bertanggung jawab bahwa 135 korban itu bukan hanya angka, itu nyawa manusia,” ungkapnya

“Ini penting kami sampaikan agar perbaikan sepak bola Indonesia ke depan bisa lebih baik, suporter terjamin keamanan dan keselamatannya dan sepak bola betul-betul menjadi hiburan rakyat bukan teror yang menakutkan,” imbuhnya

Sementara itu, Founder Pandit Football Indonesia, Andreas Marbun mengapresiasi kepedulian suporter dalam menggalang aksi kepedulian atas tragedi kasus Kanjuruhan. Ia berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan masif di seluruh tanah air.

Menurutnya, ratusan korban jiwa korban tragedi Kanjuruhan seperti hilang dari perhatian PSSI, setelah tiga bulan berlalu tidak ada perkembangan signifikan atas pengusutan kasus tersebut. Keadilan yang didambakan oleh keluarga, Aremania dan masyarakat sirna setelah satu dari enam tersangka, Akhmad Hadian Lukita dibebaskan dengan alasan tidak terpenuhinya alat bukti untuk yang bersangkutan di tahan.

“Kalian buat acaranya lagi, semoga doanya sampai, mudah-mudahan keadilan bisa ditegakan walaupun saya pesimis, enam orang dijadikan tersangka dan hari ini cuman lima tersangka,” kata Founder Pandit Football Indonesia, Andreas Marbun

Dikatakan Andreas, kematian ratusan nyawa manusia dalam tragedi sepak bola di Indonesia sering ditanggapi oleh PSSI sebagai angka semata, hingga rasa tanggung jawab dalam diri pengurus PSSI sudah hilang. Padahal, PSSI selalu organisasi induk sepak bola Indonesia harus bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan, bukan melepas malah melepas tanggung jawab.

“Dia (PSSI) anggap hanya angka, 135 hanya dianggap angka. Saya selalu bilang salah satu hipotesa saya di Kanjuruhan, satu-satunya organisasi, satu-satunya otoritas sepak bola di Indonesia yang harusnya bisa menghentikan tragedi Kanjuruhan dengan standar operasional prosedur, dengan penegakan-penegakan banyak hal di Stadion adalah PSSI,” ujarnya.

“Maka saya tunjuk langsung, mereka perlu bertanggung jawab karena mereka yang bisa mencegah terjadinya tragedi itu. FIFA regulation, security regulation di stadion, semuanya ada aturan itu, dimitigasi sejak awal, dicegah sejak awal,” tambahnya.

Menurut Andreas, tragedi Kanjuruhan adalah kelalaian PSSI selaku penanggung jawab utama, namun para pengurus PSSI seakan-akan lupa bahwa ada tragedi yamg menewaskan ratusan nyawa manusia.

“Tragedi Kanjuruhan itu menurut saya kelalaian, dan banyak tragedi di Indonesia dilupakan sampai hari ini tidak pernah diselesaikan menurut saya itu kebiadaban,” ucapnya.

Andreas pun menyerukan kepada seluruh suporter sepak bola di Indonesia untuk tidak berhenti menuntut keadilan bagi para korban dan keluarga korban, karena tragedi Kanjuruhan ini adalah sikap lalai yang ditunjukkan oleh PSSI.

“Jadi jangan pernah kita lupa menuntut keadilan bagi para korban, jangan lupa kita menuntut otoritas yang berlaku bahwa mereka harus ikut bertanggung jawab menyelesaikan ini,” tegasnya.

Andreas yang dikenal sangat lantang menyuarakan keadilan bagi korban Kanjuruhan ini pun mengajak seluruh awak media, suporter untuk tidak memberitakan Liga 1 Indonesia sampai ada keadilan bagi para korban.

“Kita memboikot pemberitaan liga 1 hingga sampai ada titik terang dalam kasus di Kanjuruhan. Tetap jaga harapan kita bahwa kasus Kanjuruhan bisa diusut tuntas, kita tetap menuntut agar keadilan bagi para korban, keadilan bagi keluarga korban bisa ditegakan,” jelasnya.

Diakui Andreas, salah satu bukti ketidakpedulian PSSI terhadap ratusan korban Kanjuruhan adalah tidak adanya rasa hormat atau respek dalam tindakan, seperti melakukan doa kepada korban sebelum pertandingan Timnas atau menggunakan pita hitam di lengan. Parahnya, PSSI malah memberikan hormat kepada legenda sepak bola Brazil Pele dan mengabaikan ratusan nyawa akibat kelalaian mereka.

“Bahkan lihat di pertandingan piala AFF, berdoa untuk meninggalnya Pele. Sedih betul saya, 135 orang aja tidak di doain sama mereka, gak ada ban hitam di lengan mereka. Jadi tuntut juga juga ke klub kita masing-masing, suruh pasang ban hitam sebagai duka tragedi Kanjuruhan,” ungkapnya.

Untuk itu, Andreas mengajak seluruh masyarakat pecinta sepak bola Indonesia mendoakan PSSI agar bisa berbenah. Salah satu yang harus dibenahi adalah bertanggung jawab dalam memitigasi hal-hal yang bisa memakan korban dalam sepak bola ke depan.

“Kita berdoa juga agar PSSI bisa berbenah, menurut saya satu alasannya tadi, mereka kemudian harus bertanggung jawab, bisa mencegah terjadinya tragedi Kanjuruhan, malah mereka sekarang balik badan, bicara ini, bicara itu,” katanya.

Andreas pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus melakukan aksi menuntut keadilan bagi setiap korban jiwa dalam sepak bola Indonesia, baik korban Kanjuruhan maupun korban-korban di stadion-stadion lainnya.

“Menurut saya ini jadi contoh buat teman-teman yang lain, semoga energinya sampai besok di Bekasi, semoga energinya sampai tanggal 11 di Malang, muda-mudahan banyak energi yang tersampaikan diberbagai penjuru di Indonenesia bahwa keadilan di Kanjuruhan, keadilan bagi korban Kanjuruhan harus ditegakan,” tegasnya.

“Teriakan paling keras diboikot banyak orang, Pandit di unfollow banyak orang, banyak yang pada gak datang, bodoh amat saya. Ada situasi yang kemudian tidak terelakkan di sepak bola Indonesia, rusak hari ini sepak bola Indonesia karena menormalisasi semua kematian-kematian di stadion,” tutupnya.

(Tino Oktaviano)