Jakarta, Aktual.co — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi mengaku prihatin dengan polemik dualisme kepengurusan yang dialami internal Partai Golkar selaku partai dimana ia mengawali karir politiknya.
“Saya saat ini prihatin Golkar dirundung masalah yang tidak kunjung usai. Saya dulu mengawali karir politik di Partai Golkar, sebelum akhirnya pindah ke Hanura,” kata Yuddy Chrisnandi, di Jakarta, Jumat (22/5).
Yuddy yang juga politisi Hanura, mengisahkan pertama kali mengawali karir politik di Partai Golkar tahun 1992. Kala itu tidak mudah bagi seorang biasa seperti dirinya untuk masuk ke partai sebesar Golkar.
“Saya dibantu oleh almarhum Eki Syachruddin, seorang tokoh eksponen 66 untuk bisa masuk ke Golkar,” kata Yuddy.
Yuddy mengatakan kala itu ketika dirinya mendaftarkan diri di Kantor DPP Partai Golkar Jakarta, dirinya bak memasuki sebuah kerajaan dengan birokrasi yang ketat.
Namun akhirnya dia berhasil masuk ke partai beringin yang juga merupakan tempat kakek dan ayahnya menimba ilmu politik dulu.
Dia meyakini Golkar sebagai partai besar yang juga aset politik bangsa, seharusnya tidak bernasib seperti saat ini.
“Saya mengharapkan Golkar sebagai partai yang memiliki banyak tokoh senior, bisa menemukan solusi atas polemik internalnya. Saya pindah ke Hanura bukan kecewa dengan Golkar, saya pindah pun meminta masukan dari abang-abang saya di Golkar seperti pak Jusuf Kalla, pak ARB, pak Agung Laksono, pak Theo, pak Akbar Tanjung dan lainnya,” kata Yuddy.
Yuddy menekankan bahwa apa yang menjadi pikirannya mengenai Golkar merupakan cerminan sikap pemerintah. Menurut dia, pemerintah tidak memiliki niatan sama sekali untuk mencampuri urusan internal Golkar.

Artikel ini ditulis oleh: