Jakarta, Aktual.com – Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth kembali menegaskan rencana negaranya untuk menempatkan senjata di luar angkasa melalui proyek rudal Golden Dome (Kubah Emas).
“Golden Dome untuk Amerika, sebuah inisiatif revolusioner berupa senjata dan sensor berbasis antariksa, konstelasi terfokus dari sensor dan satelit generasi berikutnya yang akan melihat setiap ancaman dari setiap sudut dunia,” kata Hegseth dalam pidatonya pada 23 Februari 2026, waktu setempat, di Sierra Space, Louisville, Colorado.
Pada Mei, Presiden AS Donald Trump meluncurkan proyek Golden Dome, yang diperkirakan menelan biaya hampir 175 miliar dolar AS (sekitar Rp2,94 kuadriliun) dalam tiga tahun ke depan.
Golden Dome direncanakan akan mencakup kemampuan persenjataan berbasis darat dan antariksa yang dapat mendeteksi dan menghentikan rudal di keempat tahap utama serangan potensial.
Keempat tahap utama serangan potensial itu adalah mendeteksi dan menghancurkan sebelum peluncuran, mencegat pada tahap awal penerbangan, menghentikan di tengah lintasan di udara, atau menghentikan saat menit-menit terakhir ketika rudal turun menuju target.
Tindakan-tindakan itu dapat dilakukan karena aksi pencegatan berbasis pada kemampuan satelit dan sensor di antariksa.
Inisiatif pertahanan berlapis tersebut akan mengintegrasikan sistem darat, laut, dan ruang angkasa untuk melindungi AS dari ancaman rudal. Uji coba besar pertama dilaporkan dijadwalkan pada akhir 2028.
Namun, kantor berita Bloomberg melaporkan bahwa menurut penilaian para ahli, Golden Dome tersebut akan menelan biaya 1,1 triliun dolar AS (sekitar Rp18,5 kuadriliun).

Trump menyatakan Golden Dome akan terintegrasi dengan sistem pertahanan yang telah dimiliki AS, dan akan beroperasi sebelum akhir masa jabatannya.
“Begitu selesai dibangun, Golden Dome akan mampu mencegat rudal, bahkan jika diluncurkan dari sisi lain dunia, atau bahkan dari luar angkasa. Ini akan menjadi sistem pertahanan terbaik yang pernah dibuat,” katanya.
Tahap awal program ini akan mendapatkan alokasi dana sebesar 25 miliar dolar AS (sekitar Rp410,5 triliun), yang akan dimasukkan dalam rancangan undang-undang pengeluaran dan pemotongan pajak besar-besaran yang tengah diupayakan Trump untuk disetujui Kongres, meski menghadapi tantangan dari kalangan partainya sendiri — Partai Republik.
Meski detail teknis belum diungkap sepenuhnya, Trump mengatakan sistem ini akan menggunakan “teknologi generasi terbaru” yang mencakup darat, laut, dan luar angkasa — termasuk sensor dan pencegat berbasis ruang angkasa.
Trump menunjuk Jenderal Angkatan Luar Angkasa, Michael Guetlein, untuk memimpin pengembangan proyek ini. Trump mengaku mengusulkan sendiri proyek tersebut dan disukai para perwira tinggi militernya.
Meski belum jelas apakah Golden Dome dirancang untuk melindungi seluruh wilayah AS atau hanya fokus pada pusat-pusat populasi besar dan kawasan strategis lainnya, namun Trump menyebut Kanada telah menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dalam program ini.
“Kanada ingin ikut serta. Ini akan menjadi perluasan kecil, dan kami akan bekerja sama soal harga. Mereka tahu cukup banyak tentang program ini, dan mereka sendiri yang mengajukan keinginan untuk ikut. Jika mereka mampu membiayai, kami juga,” jelasnya.
Bahkan, Trump menyebut kemungkinan AS akan membahas soal senjata nuklir berbasis luar angkasa dengan Rusia.
Golden Dome dinilai menjadi upaya AS untuk menanggulangi rudal-rudal canggih terbaru yang dikembangkan China dan Rusia, termasuk menempatkan satelit dengan kemampuan menonaktifkan satelit penting bagi AS.
AS sebelumnya sudah memiliki banyak kemampuan pertahanan rudal, termasuk rudal Patriot yang telah diberikan AS ke Ukraina untuk mempertahankan diri dari rudal serta serangkaian satelit di orbit untuk mendeteksi peluncuran rudal.
Perlombaan Senjata Antariksa
Menyikapi rencana AS itu, China menyebutkan dapat mendorong perlombaan senjata di antariksa. Proyek tersebut juga dinilai akan meningkatkan risiko mengubah angkasa menjadi zona perang dan mengguncang sistem keamanan dan pengendalian senjata internasional.
“Hal tersebut membuat proyek tersebut memiliki sifat ofensif yang kuat dan melanggar prinsip penggunaan damai dalam Perjanjian Luar Angkasa,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.
Ia menegaskan, proyek rudal itu juga melanggar prinsip ‘undiminished security for all’ (keamanan tanpa terkecuali) dan akan merusak keseimbangan dan stabilitas strategis global. “China sangat khawatir,” ucap Mao Ning.
Negaranya pun mendesak AS untuk menghentikan pengembangan dan pengerahan sistem antirudal global, dan mengambil tindakan konkrit untuk meningkatkan kepercayaan strategis antara negara-negara besar dan menegakkan stabilitas strategis global.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi

















