Para pekerja tampak sibuk di lini produksi di pabrik Dongfeng Passenger Vehicle Company di Wuhan

Jakarta, Aktual.com – Impor barang modal Indonesia melonjak 20,06 persen sepanjang Januari–Desember 2025, menandai penguatan belanja investasi industri di tengah melemahnya impor energi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan tersebut terutama didorong masuknya mesin, peralatan produksi, dan kendaraan, sementara impor migas justru turun 9,67 persen seiring pelemahan harga energi global.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan total impor Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$241,86 miliar atau tumbuh 2,83 persen secara tahunan. Kinerja tersebut terutama ditopang impor nonmigas yang meningkat 5,11 persen menjadi US$209,09 miliar, mencerminkan pergeseran struktur impor ke sektor-sektor produktif.

“Impor barang modal naik cukup besar, terutama mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS85), mesin dan perlengkapan mekanis beserta bagiannya (HS84), serta kendaraan dan bagiannya (HS87),” ujar Ateng dalam Konferensi Pers Rilis BPS di Kantor BPS RI, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Sebaliknya, impor bahan baku dan barang konsumsi justru tercatat menurun. Kondisi ini membuat struktur impor Indonesia sepanjang 2025 lebih didominasi kebutuhan investasi dibandingkan konsumsi, yang dinilai mencerminkan upaya pelaku usaha memperluas kapasitas produksi di tengah prospek permintaan jangka menengah.

Secara makro, lonjakan impor barang modal menjadi sinyal awal penguatan aktivitas industri yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal-kuartal berikutnya. Tambahan mesin dan peralatan produksi diharapkan meningkatkan output industri pengolahan, meski dampak akhirnya tetap bergantung pada keberlanjutan investasi dan serapan pasar domestik.

Secara bulanan, total impor pada Desember 2025 tercatat sebesar US$23,83 miliar atau naik 10,81 persen dibandingkan Desember 2024. Impor nonmigas pada periode tersebut meningkat 12,46 persen menjadi US$20,48 miliar. Ateng menjelaskan seluruh golongan penggunaan impor mengalami kenaikan tahunan pada Desember, dengan barang modal kembali menjadi pendorong utama.

Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia pada Desember 2025 juga menunjukkan perbaikan, terutama dari sektor nonmigas yang ditopang industri pengolahan. Kombinasi kinerja ekspor dan impor tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus.

“Pada Desember 2025, neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$2,51 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Ateng.

Ia menambahkan surplus perdagangan Desember terutama ditopang komoditas nonmigas, khususnya lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca migas masih mencatat defisit akibat impor minyak mentah dan hasil minyak.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi