Jakarta, Aktual.com — Autisme merupakan gangguan tingkah laku yang berbeda dengan gangguan mental lainnya. Gangguan autisme bisa muncul dengan berbagai perilaku. Penyembuhan tanpa pengobatan dalam menangani masalah gangguan autisme dapat menimbulkan beberapa efek samping.

Biasanya hal tersebut disebut sebagai “Autism Spectrum Disorders (ASD)”. Gangguan mental yang tidak seimbang dianggap sebagai norma agar dapat menganalisis pasien itu sendiri. Dan, diagnosisis tersebut merupakan awal membantu mengobati penderita yang mengidap autisme.

Seperti dilansir NaturalNews, Anda perlu mengetahui, ada beberapa cara agar Anda dapat mendiagnosis seseorang yang memiliki autisme. Misalnya:

1. Cara Korespondensi Non-verbal
Tidak adanya kontak mata ketika berbicara, memperlihatkan perilaku yang berlebihan, memiliki perilaku ‘sterotype’, memiliki ketidakmampuan dalam berbagai hal, cacat Kognitif.

Dan, yang terpenting untuk diketahui yakni, jika pasien sangat ‘introvert’ maka tidak sah jika dilakukan diagnosa pada tahap awal, karena hal tersebut akan berdampak terhadap epilepsi.

2. Mengatasi dan membantu orang-orang dengan Autisme
Membantu agar perilaku autisme kembali normal tentunya disahkan jika dilakukan sendiri oleh anggota keluarganya. Lantaran, kepedulian masyarakat sekitar yang dapat membantu mental si pasien agar merasa dihargai dan tidak dibedakan, dimana bisa menimbulkan semangatnnya. Adapun cara lainnya yang dapat membantu yaitu:

Intervensi perilaku, terapi bahasa, menggunakan Perilaku Terapan Analisis (ABA), dan menerapkan Hyperbaric Oxygen Theraphy (HBOT)

Perawatan di atas, diyakini dapat membantu autisme kembali menjalankan kehidupan sosialnya. Selain itu, juga bisa mengatasi kegelisahan, kecemasan, dan sebagainya.

Jika ada yang mengatakan pasien autisme dapat disembuhkan maka itu adalah suatu kekeliruan. Karena hingga saat ini tidak ada obat-obatan yang dapat menyembuhkan pasien autisme. Tetapi hal diatas mampu mengurangi gejala gangguan seperti ‘introvert’ dan lain sebagainya.

Namun telah ditemukan baru-baru ini, dimana ilmuwan merekomendasikan ganja memiliki potensi untuk mengobati autisme. Selain intervensi ini dan terapi ‘HBOT’, ganja dapat menjadi bantuan bagi penderita autisme.

Telah dibahas bahwa ketika autisme beranjak dewasa, efek samping dari ‘introvert’ akan berubah menjadi pikiran lain. Karena, sebagian waktu, kondisi epilepsi dengan kejang yang tidak teratur diproduksi oleh pubertas.

Marijuana juga dapat membantu untuk kondisi epilepsi, dan didukung oleh beberapa penyakit yang berbeda seperti pembusukan otot, penurunan berat badan secara ekstrim dan glaukoma.

Dampak ganja terdiri dari dua bahan kimia yang penting :

THC (tetrahydrocannabinol)
Ini alasan mengapa di negara tertentu, zat di dalam ganja, CBD (cannabidiol) disahkan menjadi obat dan dapat menjadi bantuan nyata membantu penderita autisme.

Para ilmuwan yang bekerja untuk University of California menemukan bahwa penyakit neurologis yang beragam terkait dengan autisme dapat ditangani dengan memanfaatkan cannabias, karena dapat langsung mempengaruhi perasaan.

Sementara itu, obat dengan CBD untuk pasien penderita autis dapat menunjukkan hasilnya, bukan hanya karena kapasitas mengurangi gangguan pikiran, tetapi juga untuk membantu untuk autisme.

Sedangkan, Marijuana dengan kandungan CBD yang tinggi mampu menghilangkan rasa sakit, dan berguna mengurangi nyeri dan sclerosis. (Sumber: Natural News)

()

()