Yogyakarta, Aktual.com – Masyarakat Yogyakarta mulai dapat merasakan kereta rel listrik (KRL) yang baru pertama kali diujicobakan, Rabu (20/01) sore. KRL ini bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.

Fasilitas dan kelengkapan KRL membuat penumpang kereta api jarak pendek (commuter) merasa nyaman.

Gerbong kereta yang luas dengan tempat duduk yang empuk berbahan beludru coklat memanjakan penumpang yang tidak hanya membutuhkan ketepatan waktu tetapi juga sensasi berbeda yang terasa ‘indah’.

Bagi Noor Harsya Aryo Samudro, salah satu penumpang KRL yang juga anggota komunitas Pramekers, menggunakan KRL bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.

Telah lama para penglaju atau commuters menantikan kehadiran KRL seperti layaknya di Ibu Kota Jakarta.

“Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan, sangat sulit untuk dideskripsikan. Kami menanti sejak tahun 2012, kemudian tahun 2016 saya dengar kabar (infrastruktur) akan dibangun, dan baru terwujud di tahun ini,” katanya.

Ketika uji coba perdana, KRL berangkat dari Stasiun Besar Yogyakarta atau Stasiun Tugu sekitar 13:45 WIB tiba tepat waktu pada pukul 15:00 WIB.

Sejatinya, waktu tempuh itu serupa dengan Kereta Rel Diesel (KRD) Prameksi yang sudah lebih dari dua dasawarsa melayani para penumpang.

Di atas KRL, selama perjalanan sekitar 75 menit menuju Stasiun Solo Balapan, penumpang dapat melihat pemandangan alam atau hanya sekadar beristirahat dengan suasana yang tenang.

Selain kenyamanan, faktor pandemi yang mengharuskan satu gerbong diisi 30-75 penumpang, membuat perjalanan lebih nyaman.

Salah satu keunggulan KRL dibandingkan KRD Prameks adalah penumpang dapat lebih banyak turun di stasiun kereta.

Jika Prameks hanya berhenti total di enam stasiun, dengan jarak dan waktu tempuh yang sama, KRL berhenti di 11 stasiun.

“Ini salah satu keuntungan bagi para penumpang, karena dengan KRL bisa turun di stasiun-stasiun kecil. Misalnya saja ada Stasiun Srowot, Ceper dan Gawok,” kata Noor.

Namun bagi pria yang menjabat sebagai Komisioner Bawaslu Kota Yogyakarta Divisi Pengawasan dan Humas ini, hal yang paling menakjubkan bagi dirinya adalah penggunaaan Kartu Multi Trip (KMT).

“Kita sudah tidak perlu datang satu jam sebelum keberangkatan kereta dan menunggu lama di stasiun. Ini seperti KRL di Jakarta yang kita tinggal tap kartu dan masuk, semudah itu soal ticketing,” ungkapnya.

Yusticia Eka Noor Ida ST, anggota komunitas Pramekers, juga mengakui kenyamanan dan keindahan kereta baru relasi Yogyakarta – Solo ini.

Interior yang terkesan modern dan bersih serta pendingin udara yang sejuk membuat penumpang moda transportasi KRL nyaman.

Belum lagi jika berbicara harga tiket yang sama dengan Prameks yaitu seharga Rp8.000 untuk sekali perjalanan.

“Saat ini situasi masih pandemi dan prokes (protokol kesehatan) harus ditegakkan, dan saya melihat rambu-rambu untuk menjaga jarak sudah sangat baik di sini. Selain itu, KRL ini pakai supply listrik ya, tentu lebih hemat dan ramah lingkungan dibanding KRD yang menggunakan bahan bakar fosil,” sebut Yusticia.

(Warto'i)