Ilustrasi- Konflik Rusia dan Ukraina

Jakarta, Aktual.com – Meski negara-negara Barat menyerukan penghentian dini terkait konflik di Ukraina,  mereka melakukan segalanya untuk mencegah penghentian ini dengan tindakan-tindakan mereka, demikian disampaikan seorang diplomat Rusia pada Jumat (6/5) kemarin.

Pengiriman senjata ke Ukraina meningkat dan Amerika Serikat (AS)  telah mengirim berbagai produk militer senilai 3,8 miliar dolar AS (Rp38,98 triliun), ujar Alexei Zaitsev, Wakil Direktur Departemen Informasi dan Pers Kementerian Luar Negeri Rusia, dalam sebuah konferensi pers.

Pasokan militer dari negara-negara Barat akan memperpanjang konflik, menyebabkan kehancuran baru infrastruktur sipil, dan menelan lebih banyak nyawa warga sipil, katanya.

Dengan latar belakang ini, pembicaraan damai Rusia-Ukraina dalam keadaan stagnasi, tutur Zaitsev.

Sementara itu, diplomat tersebut membantah tudingan bahwa Rusia dapat menggunakan senjata nuklir selama operasi militer khusus di Ukraina, seraya menyebut spekulasi itu sebagai “kebohongan yang disengaja.”

Rusia dengan tegas menganut prinsip bahwa “tidak ada pemenang dalam perang nuklir, dan nuklir tidak boleh diluncurkan,” imbuh Zaitsev.

(Arie Saputra)