Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai keragaman identitas, budaya, bahasa, etnis, dan agama dapat menjadi kekuatan penuh untuk menghadirkan praktik politik yang inklusif serta menjangkau semua pihak tanpa pembeda.

“Kegiatan politik tidak bisa dilepaskan dari identitas seseorang. Setiap politisi memiliki beragam identitas secara ras, agama, maupun asal daerah. Namun, terdapat nilai, ideologi, filosofi kebangsaan yang menjadi pedoman dalam berpolitik,” kata Lestari dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (23/11).

Lestari menyampaikan hal itu saat menerima peserta “Socdem Asia-Progressive Alliance” dengan tema Politics of Identities: Harnessing Power in Diversity and Unity di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (22/11).

Lestari menilai identitas personal berkorelasi dengan realitas sosial tempat individu bertumbuh. Dalam catatan sejarah, tambahnya, budaya Asia dengan seperangkat identitas dan semangat kesatuan mengalami tantangan melalui bermacam distorsi politik.

“Bermacam distorsi politik itu kemudian mengerucut pada tujuan utama demokrasi sosial yaitu merangkul kelompok yang dikucilkan secara sosial kemudian merealisasikan hak-hak universal yang tak terpisahkan dari diri mereka,” jelasnya.

Menurut Lestari, identitas adalah bagian dari keadaan alamiah manusia yang di dalamnya terdapat identitas sosial, misalnya sebagai orang Indonesia yang juga merupakan bagian dari Asia Tenggara dan Asia.

Dia mengatakan kesatuan identitas tersebut tidak mungkin dipecah begitu saja tanpa alasan mendasar karena menjadi kesatuan yang kompleks.

“Yang menjadi masalah adalah jika identitas atau atribut diri tertentu digunakan dan dimanipulasi untuk tujuan politik,” kata Lestari.

Dia mengatakan kawasan Asia memiliki satu kultur keterhubungan yang mengakar dari sejarah masa lalu. Misalnya, berbagai kebudayan yang saling memengaruhi terlihat di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Keterhubungan itu menjadi penanda bahwa bangsa Asia mampu membangun relasi tanpa mengedepankan atribut pembeda.

“Setiap orang dijamin hak dan kebebasannya, terlepas dari latar belakangnya. Negara yang demokratis tidak melihat orang berdasarkan identitasnya,” ujar Lestari Moerdijat.

Dia mengatakan tugas masyarakat global saat ini adalah menyudahi ragam kebencian dengan satu tekad bahwa berpolitik tidak pernah berorientasi pada kesejahteraan publik dengan label dan atribut tertentu.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)