Jakarta, aktual.com – Maulana Syekh Yusri Rusydi menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah merupakan makhluk pertama yang telah Allah ciptakan, beliau menjawab bahwasanya Nabi kita adalah merupakan rahmat dari seluruh alam semesta ini. Hal ini sebagaimana Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah kami utus engkau wahai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam,” (QS. Al Anbiya : 107).

Dimana rahmat Allah ini adalah lebih dahulu diciptakan dari pada yang dirahmati, karena setiap alam adalah membtuhkan kepada rahmat ini. Rahmat inilah yang menjadi sebab dari diciptakannya alam. Yang dimaksudkan dengan rahmat ini adalah,

روحانية النبي صلى الله عليه وآله وسلم

“Cahaya Muhammad (Ruhaniyah Muhammad Saw),”.

Bukanlah yang dimaksud jasad Nabi Saw yang dilahirkan oleh Sayyidah Aminah di kota Mekkah. Karena sebagaimana kita ketahui, ruh itu diciptakan Allah Swt terlebih dahulu dari pada jasad.

Syekh Yusri mengatakan tidak ada satupun makhluk yang mengkalim bahwasanya dirinya adalah merupakan makhluk yang pertama kali beriman kecuali Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW menyatakan hal ini pada empat ayat Al Qur’an, yang pertama adalah firman Allah Swt,

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ

“Katakanlah wahai Muhammad bahwa sesungguhnya saya diperintahkan menjadi orang islam yang pertama,” (QS. Al An’am : 14).

Dimana kata أَنْ أَكُونَ adalah berasal dari kata فيكون كُنْ, yaitu perintah Allah Swt kepada Nabi Saw untuk menjadi muslim yang pertama, maka langsung terwujud adalah sesuatu yang baru (tanjizi hadits).

Tidak diartikan Nabi Saw adalah makhluk pertama yang beriman pada Ilmu Allah, karena sifat Al ‘Ilm bagi Allah adalah Qodim. Ditambahkan lagi kita (orang islam) adalah orang yang beriman menurut Sifat Ilmu Allah Ta’ala, sehingga apa keistimewaanya pada penyebutan Nabi Saw pada ayat ini?.

Sudah bareng tentu keistimewaanya adalah karena Nabi SAW adalah makhluk Allah yang pertama kali beriman.

Ayat yang kedua adalah firman Allah Swt,

وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Dan saya adalah orang islam yang pertama,” (Al-An’am: 163).

Pernyataan ini adalah bentuknya khobar (pemberitaan) yang dimana tidak bisa dinaskh (dirubah). Karena jikalau boleh dinaskh maka Nabi berbohong terhadap perkataanya, dan ini adalah mustahil baginya.

Ayat yang ketiga adalah firman Allah

وَأُمِرْتُ لأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan saya diperintahkan agar saya menjadi orang muslim yang pertama,” (QS. Az-Zumar: 12).

Sekali lagi ini ayat ini adalah berbicara masalah ruhaniyah muhammadiyyah bukan jasad Nabi SAW.

Adapun ayat yang keempat adalah firman Allah yang artinya, “Katakanlah wahai Muhammad, seandainya saja Allah Dzat yang Rahman  itu memilik anak, maka saya adalah orang yang pertama kali menyembah (kepada Allah),” (QS. Az-Zukhruf: 81).

Lantas bagiamana dengan ayat,

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan saya diperintahkan agar menjadi golongannya orang yang beriman,” (QS. An-Naml: 91).

Dimana Nabi tidak mengatakan seperti yang sebelumnya bahwa beliau adalah orang yang pertama kali beriman?.

Syekh Yusri menjawab hal ini dikarenakan ayat ini menceritakan tentang baginda Nabi ketika sudah terlahir di dunia ini sebagai manusia, maka dari itu dikaitkan pada ayat ini dengan penyebutan هَذِهِ الْبَلْدَةِ, yang artinya kota ini yaitu Mekah Al-Mukarramah.

Yang terakhir adalah bagaimana dengan Nabi Musa AS yang mengatakan bawha beliau adalah orang yang pertama kali beriman?.

Allah Swt berfirman,’

فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِين

“Maka ketika ia (Musa AS) tersadarkan diri, dia berkata : Maha Suci Engkau wahai Allah, saya telah bertaubat kepada Mu, dan saya adalah orang yang pertama kali beriman,” (QS. Al-A’raf: 143).

Syekh Yusri menjawab bahwasanya maksud dari ayat ini adalah Nabi Musa AS mengakui bahwa dirinya adalah orang yang pertama beriman akan ketidakmampuanya untuk melihat Allah Swt di dunia ini. Maka ayat ini tidaklah bertentangan dengan ayat-ayat tentang penyataan Nabi sebagai orang yang pertama kali beriman dari semua makhluk-Nya.

Waallahu a’lam.

(Rizky Zulkarnain)