Semarang, Aktual.com — Ratusan warga binaan Napi Lapas Klas IA Kedungpane Semarang mengikuti salat gerhana matahari (atau salat Khusuf) yang berlangsung di Masjid setempat, Rabu (09/03).

Salat secara berjamaah yang dipimpin takmir Masjid At-Taubah setempat, KH Nurul Huda. Sebelum melaksanakan salat, terlebih dahulu dirangkai kegiatan pembacaan tasbih, tahmid dan istighfar yang dimulai pukul 06.00 hingga pukul 08.00 WIB.

Dalam khutbahnya, KH Nurul Huda menyampaikan hukum salat gerhana matahari adalah sunnah muakkadah (atau sunah yang dianjurkan, red). Dalam Hadis yang diriwayatkan HR. Imam Muslim, “Sesungguhnya Matahari dan Bulan merupakan dua tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah SWT tidak berlaku gerhana pada kedua-duanya kerana kematian seseorang dan tidak pula kerana kelahirannya. Maka apabila kamu melihat perkara itu maka sembahyanglah dan berdoalah sehingga kembali terang (hilang gerhana, red) apa dengan kamu.”

Kiyai Nurul menyampaikan saat Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos atau dengan kata lain gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena Matahari ‘dimakan’ raksasa atau makhluk yang tak masuk akal, tetapi gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

“Allah SWT yang mencipkan Matahari dan Bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Belakangan diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem Matahari, Bulan dan Bumi,” ujar ia.

Menurut ia, gerhana hanyalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dengan kajian ilmu pengetahuan (sains), lanjut Huda, bisa lebih banyak mempelajari ayat – ayat-Nya di alam ini. Ia menyatakan, gerhana memberi banyak bukti bahwa alam ini ada yang mengaturnya.

“Allah SWT yang mengatur peredaran benda-benda langit sedemikian teraturnya sehingga keteraturan tersebut bisa diformulasikan untuk prakiraan,” ungkapnya.

Huda menyebutkan, bila Matahari dan Bulan berjalan pada jalur yang sama, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda.

Menurut Huda, perjumpaan Bulan dan Matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakannya. Ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara Matahari dan Bumi.

”Gerhana matahari telah menjadi bagian perkembangan ilmu hisab untuk memprakirakan peredaran bulan, sehingga awal bulan qamariyah kini bisa dihitung makin akurat,” tutur ia.

Di akhir khutbahnya, Huda langsung memanjatkan doa dengan memohon, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau dari segala kekurangan, maka ampunilah segala kesalahan penjelajahan intelektual kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka.”

”Setelah kita melaksanakan salat gerhana dan merenungi hikmah dibalik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya,” katanya lagi memberikan nasihat.

Sementara itu, dalam kata sambutanya, Kepala Lapas Klas IIA Semarang, Dedi Handoko menyebutkan, bahwa ajakan salat sunah gerhana matahari ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pembelajaran kepada WBP dan jajaranya. Karena, menurut fenomena gerhana seperti ini akan sangat jarang ditemui.

Selain itu salat sunah gerhana ini merupakan salah satu salat sunah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan tata cara salatnya pun berbeda dengan salat sunah lainnya.

“Kita tingkatkan iman dan takwa, apalagi ini fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Semoga kita tetap menjadi manusia baru dengan mempertebal iman, menjaga tata tertib lapas, melaksanakan kewajiban sebagai umat islam dan WBP Lapas dengan sebaik- baiknya,” kata Dedi dengan nada penuh semangat.

Dedi juga menghimbau untuk menghindari perbuatan maksiat dan perbuatan yang akan merugikan diri sendiri dan lingkungan.

”Mari bersama maknai kejadian alam yang langka ini dengan bijaksana, tentunya dengan lebih mensyukuri karunia Allah SWT dan ciptaannya,” ujar ia menutup pembicaraan.

()