Jakarta, Aktual.co — Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT, Danny Suhadi mengatakan, Povinsi NTT 2014 ini mendapat alokasi 840 unit listrik tenaga surya yang akan didistribusi ke sejumlah wilayah yang belum terjangkau pelayanan Listrik PLN.

“Bantuan PLTS tersebut akan diperuntukan kepada 16 lokasi transmigrasi lokal (translok) di seluruh NTT yang belum menikmati penerangan PLN karena keterbatasan anggaran seperti di Kabupaten Sikka, Ngada di Flores dan Kabupaten TImor Tengah Selatan (TTS) di Pulau Timor,” kata Danny di Kupang, Selasa (21/10).

Dia mengatakan, bantuan PLTS juga diperuntukan bagi Komunitas Adat Terpencil (KAT) di sejumlah wilayah. Mereka dianggap layak menerima bantuan ini karena berada pada wilayah-wilayah yang sulit dijangkau PLN.

Menurut dia, bantuan ini disenergikan dengan program Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi untuk perumahan translok dan Dinas Sosial untuk program Komunitas Adat Terpencil. Dengan begitu ada keterkaitan antara program di salah satu instansi dengan instansi lainnya.

Dengan bantuan ini, lanjutnya, maka bantuan PLTS di seluruh NTT sejak tahun 2005 sudah mencapai 6.000-an unit. Jumlah ini belum termasuk bantuan yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) yang diterima kabupaten/kota untuk listrik desa dan biogas.

Dia menuturkan, saat ini Pemerintah Pusat melalui Bappenas melakukan terobosan untuk mengatasi krisis listrik di Indonesia dengan membangun pembangkit listrik tenaga air (mikrohidro) dan pembangkit listrik tenaga uap (geothermal).

Dia menambahkan, beberapa wilayah di NTT memiliki potensi panas bumi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listri seperti di Ulumbu dan Sokoria, Kabupaten Ende. Karena itu diharapkan proyek PLTU itu cepat selesai guna mengatasi keterbatasan daya listrik.

Dia mengatakan, dengan bantuan PLTS ini hingga akhir 2014, tingkat rasio elektrifikasi di NTT mencapai 58 persen.

()

(Eka)