Foto: Masjid Raya Hasyim Asy’ari tempat diberlangsungkannya acara Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) ke II PWNU DKI Jakarta, Minggu (31/7).

Jakarta, Aktual.com- Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) ke II di Aula Masjid Raya Hasyim Asy’ari, Cengkareng, Jakarta, Minggu (31/7).

Ketua pelaksana KH. Abdul Aziz mengaku sangat gembira PWNU melaksanakan Muskerwil ke II di Masjid Hasyim Asy’ari. Dan berharap dimasa datang masjid tersebut menjadi pusat perhikmatan jamiyah NU, khususnya NU DKI Jakarta.

“Kedepan Masjid ini harus menjadi pusat perhikmatan jamiyah NU, khususnya NU DKI Jakarta, dimulai hari ini melalui forum Muskerwil ke II ini,” ujarnya saat pembukaan acara.

Muskerwil ke II ini berlangsung selama satu hari dengan agenda evaluasi tahunan perjalanan hikmah jam’iyah Nahdlatul ulama di DKI Jakarta.

Selain itu, merencanakan kegiatan satu tahun ke depan dan secara khusus membahasa tentang Sembilan Program Prioritas PWNU DKI Jakarta dalam empat tahun ke depan menyongsong momentum satu abad NU.

Muskerwil ke II PWNU DKI Jakarta ini diikuti 300 peserta dari jajaran Rais Syuriah, Tanfidziyah tinggat Pimpinan Cabang (PC) NU, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, serta lajnah atau Lembaga dan Badan Otonom (Banom) PWNU Provinsi DKI Jakarta.

Pengurus NU harus menjadi pelopor perbaikan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama Provinsi DKI Jakarta KH. Samsul Ma’arif mengajak kepada seluruh pengurus NU di semua tingkatan agar bisa menjadi pelopor dalam gerakan perbaikan.

Menurutnya, semua pengurus harus bisa menjadi muslim yang bisa melakukan perbaikan dan tidak cukup hanya sekedar menjadi seorang yang sholeh.

“Orang Sholeh tapi tidak cukup menjadi orang yang baik, tapi harus ikut memperbaiki keadaan yang ada dilingkungan sekitar,” ungkapnya.

“Saya berharap seluruh pengurus di semua tingkatan menjadi pengurus yang mau melakukan perbaikan, memang banyak resikonya, tapi yakinlah satu pengurus saja mampu melakukan perbaikan akan ada banyak perubahan,” sambungnya.

Kiai Samsul juga berpesan, agar warga Nahdliyin ketika melakukan perubahan besar harus mempunyai sifat kesabaran, tahan kritik, dicaci bahkan difitnah.

(Dede Eka Nurdiansyah)